Skip ke Konten
PARAMETRIC DEVELOPMENT CENTER

Hantu “Penelitian”: Perjalanan Memasuki Gelapnya Sejarah dari Sudut Pandang Terjajah

5 Juli 2026 oleh
Egha Anugrah. T

Akhir tahun 2025 lalu, di tengah hiruk pikuknya rutinitas, saya menemukan diri tenggelam dalam sebuah buku yang bukan sekadar kumpulan kata, melainkan sebuah senjata. Buku itu adalah Dekolonisasi Metodologi (Decolonizing Methodologies, Research and Indigenous Peoples) karya Linda Tuhiwai Smith.

Menyandang predikat sebagai Associate Professor bidang Pendidikan dan Direktur International Research Institute for Maori and Indigenous di University of Auckland, Linda bukan sekadar akademisi berdasi. Ia adalah sosok pribumi Maori yang berdiri di garis depan, menggenggam pisau bedah untuk membongkar bobot penindasan kolonialisme yang selama ini beroperasi halus di ruang-ruang akademik. Jejak perjuangannya sudah teruji. Pada 1993 lalu di Whakatene, ia mewakili suara pribumi memperjuangkan hak kekayaan kultural dan intelektual yang melahirkan Mataatua Declaration. Di tahun yang sama, ia turut berbicara dalam Konferensi Bangsa Pribumi se-Dunia tentang Pendidikan.

Dari sekian banyak gagasan yang ditorehkannya, ada satu kalimat dalam pengantar bukunya --yang berjudul “Penjajahan Pikiran”- yang langsung menyambar saya.

Linda menulis, "Saya menulis buku ini dengan cara pandang bangsa terjajah—secara sadar saya mengistimewakannya—khususnya mengenai pengertian ‘penelitian’ dengan sisi dinamika kolonialisme dan imperialisme. Sejumlah kata penelitian dalam konteks tata kehidupan bahasa bangsa terjajah ternyata dirasa menjijikan, cenderung mendatangkan kenangan buruk, mengundang kebisuan dan memancing senyum tahu sama tahu di titik sudut kecurigaan."

Ketika membacanya, saya merasa sedang ditampar dengan lembut. Bayangkan, sebuah kata -yang di dunia barat dan kelas-kelas akademik dianggap sakral sebagai jalan menuju kebenaran "penelitian"- justru menjadi trauma bagi bangsa terjajah. Buku ini lahir bukan sekadar sebagai teori belaka, melainkan sebagai counter-history, sebuah narasi peringatan yang dituturkan di balik pagar rumah bangsa yang pernah dijajah. Linda sedang bertempur menggunakan soft power di medan akademik dan berusaha membebaskan benak bangsanya dari belenggu penjajahan pikiran yang telah mengakar kuat.

Untuk memahami obat yang ditawarkan Linda, ia mengajak pembacanya menelusuri sumber penyakitnya terlebih dahulu. Pada bab awal “Berangkat dari Imperialisme, kita diajak melihat langsung dua sosok yang menjadi biang keladi dari penderitaan ini.

Kita mulai dari Christopher Columbus. Pada tahun 1492, ia berlayar dengan restu Raja dan Ratu Spanyol untuk mencari rempah-rempah dan emas ke Asia, namun justru berlabuh di benua Amerika, tepatnya di Salvador. Bagi kita, Columbus mungkin hanya nama yang sering kita jumpai dalam buku-buku sejarah SD, SMP ataupun SMA. Dalam konteks ini, bagi bangsa terjajah rupanya adalah hantu-hantu yang tak pernah pergi, yang menjadi representasi awal dari kehancuran.

Tak lama berselang, muncul James Cook: penjelajah dan navigator Inggris yang menginjakkan kaki di Pasifik Selatan. Dalam catatan akademisi Hawaii, Haunani Kay Trask, sebagaimana dijelaskan Linda, Cook tidak datang dengan tangan hampa. Ia membawa kapitalisme, ide-ide politik Barat, individualisme predatoris, dan agama Kristen. Ancaman paling mematikan yang dibawanya adalah sesuatu yang tak kasat mata, yakni penyakit sampar. Bangsa pribumi yang awalnya hidup damai kemudian tersapu habis hanya karena berkontak langsung dengan awak kapal Cook.

Kepergian Columbus dan Cook seolah membuka gerbang masuknya orang-orang Eropa. Saat itu juga, tanah-tanah pribumi dipenuhi oleh personel militer, pendeta, administrator imperial, misionaris, seniman, pengusaha, hingga pemukim pendatang dari Belanda, Portugis, Inggris, dan Prancis. Mereka datang dengan klaim tanah atas nama Imperialisme, meninggalkan luka permanen yang tak kunjung sembuh.

Linda dengan cermat kemudian membedah bagaimana "Imperialisme" dan "Kolonialisme": dua konsep yang sering kita dengar tanpa benar-benar memahami bagaimana racunnyabekerja dalam empat lapisan yang saling berkaitan.

Pertama, sebagai ekspansi ekonomi. Melalui pandangan J.A. Hobson dan Lenin, Linda menunjukkan bahwa imperialisme adalah upaya Eropa menyelamatkan kapitalisme mereka yang limbung. Kaum pekerja Eropa tidak mampu menyerap hasil produksi pabrik mereka sendiri, sehingga mereka harus mengekspor modal ke pasar-pasar baru yang dijamin keamanannya oleh senjata.

Kedua, sebagai eksploitasi dan pendudukan The Others (Yang Lain). Traktat atau perjanjian yang dibuat oleh penjajah seolah-olah sah secara hukum, tapi pada kenyataannya adalah alat untuk merampas sejarah, tanah, dan bahasa. Suku Maori di Selandia Baru, bangsa Linda sendiri, menjadi saksi bagaimana traktat itu hanya menjadi kedok legal untuk serbuan militer dan pencurian tanah.

Ketiga, imperialisme sebagai semangat aktivitas global Eropa. Ini adalah bagian yang paling licik. Imperialisme berlindung di balik topeng "pencerahan" dan "modernisasi". Mereka meyakini bahwa ekspansi, ilmu pengetahuan, dan politik mereka adalah hadiah untuk peradaban manusia, padahal itu hanyalah imajinasi imperial untuk membenarkan keserakahan mereka.

Keempat, sebagai bidang pengetahuan diskursif. Di sinilah rasa sakit paling dalam menghujam. Dampak imperialisme tidak hanya berhenti pada bagian perampasan tanah, tapi menggerogoti isi kepala kita. Frantz Fanon dan pemikir post-kolonial lainnya menggugat hal ini. Kita yang berasal dari komunitas terjajah diajak menyadari bahwa cara kita memandang dunia, cara kita berpikir tentang "kebenaran", seringkali masih merupakan sisa-sisa racun dari pengetahuan diskursif Barat. Kita merasa perlu membongkar benak kita sendiri untuk menemukan kembali humanitas yang otentik.

Syahdan. Buku ini bukan sekadar rangkaian ratapan atas tragedi masa lalu. Di bab Agenda Baru Bangsa Pribumi, Linda memberikan cahaya di ujung terowongan. Ia membahas tentang penelitian pribumi. Sejarah memang membuat posisi pribumi sebagai peneliti menjadi sangat problematis; bagaimana mungkin kamu menggunakan alat penindasmu untuk membebaskan dirimu? Selain itu, Linda mencatat adanya perubahan dramatis. Minat besar bangsa pribumi untuk kembali meneliti komunitasnya sendiri mulai bermunculan. Mereka tidak lagi mau menjadi objek pasif dalam majalah penelitian barat, melainkan ingin menjadi subjek yang memegang kamera.

Dari sinilah, bidang penelitian pribumi dicoba untuk dibangun kembali dari puing-puing kepercayaan yang hancur. Menutup buku ini di penghujung tahun 2025, saya menyadari satu hal: dekolonisasi bukanlah sebuah momen, melainkan sebuah proses panjang yang dimulai dari dalam kepala kita sendiri. Linda Tuhiwai Smith telah berhasil menyusun sebuah peta jalan bagi bangsa terjajah untuk berhenti menjadi korban dalam cerita orang lain, dan mulai menulis ulang cerita mereka sendiri dari pinggiran -dengan bahasa mereka sendiri, dan atas nama kemanusiaan mereka sendiri. Karena itu, buku ini adalah bacaan wajib bagi siapa saja yang berani bertanya: Apakah pengetahuan yang selama ini kita pelajari, benar-benar milik kita?


Egha Anugrah. T 5 Juli 2026
Share post ini
Arsip