Skip ke Konten
PARAMETRIC DEVELOPMENT CENTER

Iran dan Bayang-Bayang Armageddon

5 Juli 2026 oleh
Muhammad Suryadi R
‌​Konflik antara Iran, Amerika Serikat-Israel yang kembali memanas saat ini sering dikaitkan dengan istilah yang kerap muncul dalam media internasional, yakni Armageddon. Setiap eskalasi serangan rudal, konflik di Teluk, ataupun ancaman perang regional tidak selalu dibaca sebagai konflik geopolitik, juga kerapkali di bingkai sebagai tanda menuju perang akhir zaman. Tidak sedikit media Barat menempatkan Iran bukan sekadar rival geopolitik, tetapi ancaman apokaliptik terhadap dunia modern.

Pertanyaan tentang apakah perang Iran dengan Amerika-Israel memang benar merupakan jalan menuju Armageddon? Atau hanya narasi tersebut hanyalah konstruksi politik untuk membentuk persepsi global terhadap Iran?
Mula-mula, tulisan ini berangkat dari pandangan bahwa narasi Armageddon terhadap Iran selama ini lebih merupakan produk tafsir teologis-politik Barat daripada kenyataan sesungguhnya. Artinya, Barat dengan tujuan tertentu memanipulasi teks suci Kristen demi ambisi politik hegemoniknya. Karena itu, perang Iran melawan AS-Israel tidak bisa dibaca begitu saja sebagai konflik agama. 

Sejak meletus di akhir Februari lalu, terbukti simbol dan nilai agama itu dilanggar. Misalnya, Israel terbukti menyerang sinagong orang Yahudi di Iran. Trump dengan sengaja membuat gambar dirinya menyerupai Yesus sebelum akhirnya ia hapus. Trump bahkan menghina Paus Leo XIV dan menolak berdamai. 

Menyematkan istilah nubuat akhir zaman pada perang ini sangat tidak beralasan. Lagi-lagi, perang ini murni kepentingan geopolitik, dominasi media, dan produksi ketakutan global oleh Barat.

Istilah Armageddon berasal dari tradisi Kristen Evangelikal, yang menggambarkan pertempuran akhir antara kekuatan baik dan jahat sebelum datangnya hari penghakiman. Dalam perkembangannya, sebagian kelompok Evangelikal Amerika menafsirkan konflik Timur Tengah terutama yang melibatkan Israel sebagai bagian dari nubuat akhir zaman. Israel dipandang sebagai pusat pembuktian janji ilahi, sedangkan musuh-musuh Israel sering diposisikan sebagai kekuatan anti-Tuhan.

Di sinilah Iran mulai ditempatkan dalam imajinasi apokaliptik Barat. Meletusnya Revolusi Iran 1979, sikap anti-Israel Teheran, program nuklir, dan dukungan terhadap kelompok perlawanan di Timur Tengah membuat Iran dipersepsikan sedemikian rupa sebagai ancaman eksistensial. Dalam retorika sebagian media dan elite politik Barat, Iran bukan hanya negara rival kuat, tetapi juga simbol kegelapan yang harus dihancurkan.

Masalahnya adalah tafsir tersebut bukanlah representasi universal seluruh agama. Bahkan dalam tradisi Kristen sendiri, tidak semua gereja setuju pembacaan literal tentang Armageddon itu. Banyak kalangan Kristen memandang Al Kitab sebagai simbol moral dan spiritual, bukan kita yang berisi peta geopolitik. Sedangkan dalam Islam, konsep akhir zaman memiliki struktur berbeda dan tidak identik dengan narasi perang global ala Evangelikalisme Amerika.

Karena itu, menautkan perang Iran dengan AS-Israel sebagai keniscayaan teologis sebenarnya merupakan bentuk generalisasi tafsir oleh Barat. Tafsir tertentu sengaja diproyeksikan menjadi kebenaran global. Dalam praktik politik internasional, hal ini tentu saja berbahaya, karena agama berubah menjadi legitimasi konflik yang tadinya merupakan ruang spiritualitas.

Iran sebagai Musuh Imajinatif Geopolitik Barat

Fenomena ini semakin terlihat saat perang dan serangan militer mulai dibingkai dengan bahasa religius. Dalam kondisi demikian, perang tidak lagi dipahami sebagai persoalan diplomasi dan kepentingan negara, tetapi sebagai mandat ilahi yang dldianggap suci. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh ke belakangan, konflik Iran dengan AS-Israel memiliki akar geopolitik yang sangat nyata. 

Masalahnya utamanya berkaitan dengan perebutan pengaruh regional, keamanan Israel, program nuklir Iran, jalur energi, serta dominasi strategis di Timur Tengah. Ketegangan tersebut lebih dekat dengan politik kekuasaan daripada nubuat agama. Amerika Serikat sejak lama melihat Iran sebagai ancaman terhadap hegemoni Barat di Timur Tengah. Sebaliknya, Iran memandang kehadiran militer AS dan dukungan Washington terhadap Israel sebagai bentuk imperialisme modern. 

Konflik kemudian berkembang menjadi perang pengaruh yang melibatkan milisi regional, sanksi ekonomi, propaganda media, dan operasi militer terbatas. Dalam banyak pemberitaan Barat, konflik itu sering disederhanakan menjadi pertarungan yang baik versus yang jahat. Iran dibingkai sebagai ancaman permanen terhadap stabilitas dunia. Inilah yang oleh banyak pemikir disebut sebagai produksi musuh imajinatif. Sebuah negara dibentuk citranya sedemikian rupa, dan pada gilirannya publik dunia melihatnya bukan sebagai aktor politik biasa, tetapi ancaman peradaban manusia itu sendiri.

Ketika framming itu terbentuk, maka agresi dan perang militer menjadi lebih mudah dinormalisasi dan diterima sebagai sesuatu yang sah. Sehingga, Invasi, embargo, dan serangan dapat dibenarkan atas nama penyelamatan dunia. Iran tidak tinggal diam. Iran membangun counter narasi. Pemerintah Iran menggambarkan dirinya sebagai kekuatan perlawanan terhadap dominasi Barat dan Zionisme. 

Dalam konteks ini, konflik dengan AS-Israel dipahami sebagai perjuangan mempertahankan martabat dan kedaulatan dunia Muslim. Akibatnya, kedua pihak sama-sama terjebak pada simbol agama dan di saat bersamaan memperkuat legitimasi mereka masing-masing.

Situasi menjadi semakin rumit ketika media sosial mempercepat penyebaran narasi apokaliptik. Video ceramah, potongan ayat, teori konspirasi, dan propaganda perang beredar secara masif, lalu membentuk opini global. Konflik geopolitik akhirnya berubah menjadi perang narasi, dimana orang tidak lagi sekadar membicarakan rudal dan diplomasi, tetapi juga narasi tentang nubuat, akhir zaman, dan perang suci.

Bantahan Iran atas Narasi Armageddon

Dalam sejarah perang dunia yang pernah terjadi menunjukkan bahwa setiap zaman selalu memiliki Armageddon-nya sendiri. Perang Dunia, Perang Dingin, Invasi Irak, hingga konflik Suriah pernah dianggap sebagai awal mula kiamat. Namun, semua itu pada akhirnya lebih banyak memperlihatkan dinamika politik dan ambisi kekuasaan manusia daripada kepastian metafisik tentang akhir dunia.

Sebab itu, membaca perang Iran melawan AS-Israel semata sebagai jalan menuju Armageddon justru berisiko menutup ruang penerungan. Ketika perang dianggap bagian dari takdir ilahi, diplomasi menjadi lemah dan perdamaian kehilangan legitimasi moralnya. Konflik akan berubah menjadi sesuatu yang dianggap sebagai keniscayaan.

Di titik inilah kritik terhadap narasi Armageddon ala Barat menjadi penting. Konflik Iran dengan AS-Israel harus dibaca dari kacamata historis, pendekatan politik, dan neraca yang adil. Bahwa di balik semua retorika agama, politik yang dicampur agama akan melahirkan kepentingan ekonomi, dominasi wilayah, keamanan nasional, dan perebutan pengaruh global. Agama memang digunakan sebagai simbol, tetapi politik tetap menjadi penggerak utamanya.

Armageddon, dengan demikian, bukan sekadar nubuat. Ia telah menjadi bahasa kekuasaan itu sendiri. Sebuah istilah religius yang dipakai untuk membangun ketakutan, memperkuat identitas politik, dan membenarkan konflik internasional. Dalam konteks Iran, narasi itu memperlihatkan bagaimana tafsir agama dapat berubah menjadi instrumen geopolitik modern. 

Maka, membantah klaim Armageddon ala Barat tidak serta menolak agama, tetapi menolak penggunaan agama sebagai alat legitimasi perang. Konsep Armageddon harus dibaca secara utuh dan harus melihat konteksnya. Dunia tidak membutuhkan perang suci baru di Timur Tengah. Pertama, era Perang Agama sudah lama berakhir. Kedua, tidak ada satu agama pun yang melegitimasi perang. Dan dalam konteks ini, Iran sedang membantah tafsir sepihak Barat terhadap Armageddon. Bagi Iran, perang ini adalah soal kedaulatan, harga diri, dan martabat bangsanya. Demikianlah.

​‍‍⁠‎⁢‏⁡‌⁢‍⁢‏‍​⁢⁢⁢‍⁡⁤⁢‏⁡⁤⁡︄⁡⁢‍​⁡⁣⁡⁠⁢‍⁡⁠‍︄‍︄‍︄‍‍‍︂‍​‍‍‏︃⁢⁠⁡︂⁡‌⁡⁤‍​⁡︃⁡⁠⁡︄⁢⁠⁡︂⁡⁤⁢‎‍​⁡‏⁡⁤‍​⁢‎⁡⁤⁡︄⁡⁤‍︄‍︄‍︄‍‍⁠︃

Muhammad Suryadi R 5 Juli 2026
Share post ini
Arsip

Baca Berikutnya
THR Adalah Candu