Skip ke Konten
PARAMETRIC DEVELOPMENT CENTER

Lontaraq Sebagai Pusaka atau Pustaka

13 Juli 2026 oleh
Muhammad Akbar
Suku bangsa yang ada di Indonesia tidak banyak yang mempunyai tradisi tulis. Tradisi tulis sangat penting untuk dijadikan sebagai sarana pengabdian sebuah pikiran, gagasan, perasaan, dan sebagai sarana komunikasi. Di antara banyaknya suku bangsa di Indonesia salah satu yang mempunyai tradisi tulis adalah suku Bugis, Sulawesi Selatan. 

Merekalah yang disebut sebagai pemilik naskah Lontaraq
Beberapa ahli sependapat bahwa abjad lontaraq yang didalamnya terdapat huruf Bugis, dan huruf Makassar berasal dari India, yaitu aksara Kawi, atau dari huruf Pallawa. Abjad kemudian tersebut dimodifikasi hingga bentuknya yang sekarang dan berfungsi sebagai medium pengabadian sejarah, dan karya orang-orang Bugis di Sulawesi Selatan.

Awal mula Tradisi tulis dan Lontara

Awal mula tradisi tulis Suku Bugis Makassar cukup sulit untuk memastikan kapan awal terjadinya, dikarenakan sulitnya menemukan data maupun literatur yang membahas  terkait kapan tradisi tulis itu dilakukan. Namun beberapa ahli sependapat bahwa tradisi tulis itu sudah dimulai jauh sebelum masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan. Itu artinya terjadi sebelum tahun 1600 M.

Masuknya Islam di Sulawesi Selatan sangat penting dijadikan sebagai patokan kapan awal mula terjadinya tradisi tulis, meski pada umumnya cerita-cerita kuno di Sulawesi Selatan tidak pernah menyinggung agama islam.

Jika memperhatikan berbagai kisah-kisah kuno Bugis yang dikenal dengan nama Galigo, tampak jelas bahwa kandungan ceritanya berkisar di penghujung abad ke 13- hingga abad ke-17, atau sebelum masuknya islam di Sulawesi Selatan. Sementara itu, jika La Galigo ditulis pada abad ke-17, sudah pasti dalam ceritanya akan menyinggung soal Islam di awal sejarahnya.

Argumen ini menjadi asumsi bahwa tradisi tulis baru dimulai di awal abad ke-14 atau pada akhir abad ke-13. Sejak itulah tradisi tulis dimulai sebagai pengabadian buah pikiran, dan sebagai perekaman beberapa kejadian di Sulawesi Selatan.

Sedangkan awal penciptaan lontaraq diciptakan oleh seorang Syahbandar yang menjabat sebagai Tumailalang (Menteri urusan istana luar dan dalam negeri) di kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa ke IX Daeng Matanre Karaeng Manguntungi (1510-1546). Syahbandar tersebut bernama Daeng Pamatte.

Alasan aksara ini dibuat yakni karena pada saat itu Kerajaan Gowa ingin menuliskan apa yang mereka ucapkan agar bisa menuliskan kejadian-kejadian pada masa itu. Aksara Lontaraq pada masa ini disebut sebagai aksara Lontaraq Toa atau aksara Jangang-Jangang (Burung).

Dalam perkembangannya, aksara lontaraq berubah nama pada saat agama Islam dianut oleh mayoritas masyarakat Sulawesi Selatan. Aksara lontaraq yang mengalami perubahan ini disebut Lontara Bilang-Bilang, yang jika diindonesiakan berarti hitungan. Lontaraq Bilang-bilang ini diperkirakan muncul pada abad ke-16 yakni 
pada masa pemerintahan Raja Gowa ke XIV Sultan Alauddin (1593-1639).

Perubahan bentuk aksara lontaraq bukan hanya sekedar perubahan biasa atau hanya keinginan perubahan untuk menyempurnakan aksara lontaraq yang telah ada sebelumnya, melainkan untuk menandakan terjadinya suatu revolusi yang tidak hanya merombak huruf aksara, tetapi juga merombak tatanan masyarakat, kehidupan sosial politik, dan ideologi tentunya.

Lontara sebagai Ilmu Pengetahuan

Sejak berlangsung sekitar tiga abad lamanya, naskah lontaraq menjadi sumber ilmu pengetahuan. Karena naskah lontaraq dijadikan suatu benda pustaka yang sangat penting. Naskah lontaraq bukan hanya dipelajari oleh kalangan intelektual di zamannya bahkan masyarakat biasa pada zaman itu juga ikut mempelajarinya.

Naskah yang memuat soal kejadian-kejadian pada zaman itu, silsilah Raja-raja, dan bahkan sejarah kerajaan-kerajaan, semuanya ada dalam naskah lontaraq tersebut. Bukan hanya itu, naskah lontaraq dijadikan sebuah ilmu pengetahuan dikarenakan di dalam naskah tersebut memuat berbagai ramalan tentang hari baik dan buruk. Selain itu, naskah tersebut tidak hanya membicarakan nasib dan peruntungan, tetapi juga memuat perkiraan tentang turunnya hujan atau datangnya musim kemarau yang panjang.

Selain itu, dikenal pula Lontara Pa’bura, yang  berisi tentang tata cara pengobatan, jenis-jenis penyakit dan resep pembuatan obat. Lontaraq pa’bura adalah salah satu diantara naskah yang sangat penting di zamannya. Makanya tidak salah jika masyarakat dulu menjadikan naskah lontaraq sebagai ilmu pengetahuan.

Lontaraq menjadi ilmu pengetahuan tidak bertahan lama di masa itu. Hal ini terjadi akibat degradasi kepemilikan naskah-naskah. Dimulai sejak runtuhnya kerajaan Gowa atau sejak masuknya dominasi asing di Sulawesi Selatan, kurang lebih tahun 1670, lontaraq sebagai ilmu pengetahuan secara berangsur-angsur dilupakan.

Selanjutnya, lontaraq menjadi benda warisan yang dibagi-bagikan pada generasi-generasi pewaris kekuasaan tradisional yang nantinya terpecah-pecah. Naskah tersebut masih dalam penggunaannya sebagai sumber ilmu pengetahuan dan informasi, namun pemilik yang diberikan lontara sebagai warisan hidup terpisah-pisah di berbagai kekuasaan tradisional yang berkuasa di kerajaan-kerajaan kecil.

Saat terjadinya ekspedisi penaklukan Belanda terhadap kerajaan-kerajaan di pedalaman pada tahun 1905, usat-pusat kekuasaan tradisional dan kerajaan-kerajaan pedalaman dihancurkan melalui perang kolonial dan pada saat itulah lontaraq mengalami degradasi kepemilikan yang amat drastis, baik para keturunan bangsawan yang berkuasa di kerajaan kecil maupun pedalaman kehilangan kekuasaan.

Dalam keadaan demikian benda pustaka ini pun ikut terbagi bersama benda-benda pusaka. Sejak saat itulah naskah atau benda pustaka tersebut tidak berguna lagi karena isinya, melainkan menjadi bermakna karena wujudnya. Naskah yang sebelumnya dikenal sebagai sumber ilmu pengetahuan atau benda pustaka berubah menjadi benda pusaka.

Lontaraq di Zaman Sekarang

Kebudayaan Bugis Makassar telah melahirkan ribuan manuskrip lontaraq yang mencakup sastra, silsilah, sejarah, pertanian, profesi dan lain sebagainya. Dari manuskrip itu, ratusan judul telah menjadi koleksi perpustakaan luar negeri.
Belum lagi mana yang rusak dan terbakar, hilang dan berbagai hal tragis yang menimpa manuskrip tersebut. 

Salah satu tantangan yang dihadapi di era modern ini adalah pola pikir terhadap manuskrip khususnya lontaraq, sebab manuskrip lontaraq lebih diperlakukan sebagai benda pusaka dibandingkan sebagai benda pustaka atau sumber ilmu pengetahuan.

Sebagai pusaka, lontaraq harus dijaga sakralitasnya dan kerahasiaannya, agar manfaat edukasinya tidak luntur. Lontara harusnya diperlakukan sebagai benda pustaka atau bahan literasi untuk generasi agar transformasi pengetahuan berkelanjutan dapat terjadi.

Lontaraq sejatinya adalah benda pustaka yang hidup. Karena untuk mengkaji sejarah lokal Sulawesi Selatan harus mempunyai rujukan dan referensi yang jelas. Selama ini yang menjadi tantangan bagi sastrawan bahkan pemuda dalam mengkaji sejarah lokal Sulawesi Selatan adalah rujukan dan referensi yang sangat sulit ditemukan. Walaupun lontaraq menjadi referensi, namun sulit diakses.

Beruntung di zaman dengak kemajuan teknologi saat ini, beberapa naskah lontaraq telah didigitalisasi. Sehingga informasi dan ilmu pengetahuan yang tersimpan di lontaraq itu dapat diakses dengan mudah. Salah satu tantangan untuk menyelamatkan informasi dan pengetahuan dalam lontaraq adalah merawat sakralitasnya. Tugas itu bukan untuk siapa dan kepada siapa, tetapi tanggung jawab masing-masing kita.
Muhammad Akbar 13 Juli 2026
Share post ini
Arsip