Skip ke Konten
PARAMETRIC DEVELOPMENT CENTER

Tuanta Salamaka untuk Peradaban: Legasi Pejuang Dua Benua

13 Juli 2026 oleh
Ahmad Arfah
‌​Perjalanan hidup Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari adalah teladan, contoh perjalanan seorang pejuang yang tak kenal batas geografis. Lahir pada tahun 1626 (400 tahun lalu) di Moncong Loe, wilayah Kesultanan Gowa-Tallo yang merupakan salah satu kerajaan terkuat di Nusantara.

Ia tumbuh dalam lingkungan aristokrasi. Kerajaan Gowa Tallo yang tengah berada di puncak kejayaannya, meski begitu jiwa mudanya tidak tersita oleh kemewahan istana. Pada usia sekira delapan belas tahun, ia meninggalkan tanah kelahirannya untuk menuntut ilmu, sebuah keputusan yang akan membentuk seluruh perjalanan hidupnya.

Dalam sejumlah literatur sejarah, I Lo'mo Ri Antang dan Datuk Ri Panggentungan dikenal sebagai sosok ulama yang menjadi teman seperguruan bagi Syekh Yusuf. Ia pun berlayar menuntut ilmu ke Banten, kemudian meneruskan pengembaraan spiritualnya hingga ke Aceh, Yaman, Mekkah, dan Madinah.

Di Timur Tengah, ia berguru kepada ulama-ulama besar dan mendalami berbagai tarekat sufi, sebelum akhirnya menjadi mursyid yang diakui dalam Tarekat Khalwatiyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan beberapa jalur sufisme lainnya.

Pada akhirnya  pulang ke Nusantara bukan sekadar membawa gelar, tetapi membawa khazanah keilmuan yang kemudian ia semai di berbagai penjuru. Ketika kembali ke Nusantara, Syekh Yusuf ia juga membawa api yang menyala-nyala di dada, keyakinan bahwa agama memuat juga pembebasan.

Pada dekade 1670-an, Syekh Yusuf tiba di Kesultanan Banten dan disambut dengan penghormatan tinggi. Ia menjadi mufti kesultanan, menjadi penasihat spiritual, sekaligus menjadi guru bagi ribuan santri. Namun peran terbesarnya justru lahir dari krisis: ketika VOC mulai mencengkeram Nusantara Syekh Yusuf tidak memilih jalan kompromi.

Ia memimpin perlawanan terhadap VOC bersama Sultan Ageng Tirtayasa, menjadikan ruang pengajian sebagai pusat konsolidasi perjuangan. Baginya, jihad bukan hanya perang fisik, ia adalah perjuangan total untuk martabat manusia dan kedaulatan bangsa.

Ketika Banten akhirnya takluk pada 1682, Syekh Yusuf ditangkap. Namun penangkapannya justru menjadi babak baru dalam sejarah perlawanannya yang tidak pernah padam. VOC menyadari satu kenyataan yang menyakitkan, semangat perlawanan Syekh Yusuf tidak akan pernah mati.

Maka strategi pengasingan pun ditempuh jauhkan ia dari tanah yang ia cintai. Pertama ke Ceylon (1684), lalu ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan (1694), bersama ratusan pengikutnya. VOC salah menghitung. Pengasingan tidak mematikan api, justru menyebarkan semangatnya ke tanah-tanah baru.

Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf mendirikan komunitas Muslim di Faure, di luar Cape Town. Ia mengajar, memimpin shalat, menulis risalah, dan menjaga kohesi masyarakat Muslim yang terdiri dari masyarakat lokal, dan pengikutnya dari Nusantara. Komunitas inilah yang kelak menjadi fondasi Islam di Afrika Selatan agama yang kini dipeluk oleh jutaan jiwa di seluruh benua hitam itu.

Di sinilah keagungan sejati Syekh Yusuf terungkap: ia tidak sekadar bertahan dalam pengasingan, ia mengubah pengasingan menjadi misi perjuangan peradaban. Di tanah yang asing, ia menanam benih-benih spritulisme yang tumbuh melampaui generasinya.

Para sejarawan Afrika Selatan mengakuinya sebagai Sheikh of Islam atau bapak spiritual Islam di Afrika Selatan. Nelson Mandela sendiri pernah menyebut Syekh Yusuf sebagai salah satu pahlawan yang mengilhami semangat perlawanan.

Di tengah pengejaran, peperangan, dan pengasingan, Syekh Yusuf juga tidak pernah berhenti menulis. Puluhan karya diwariskannya yang mencakup tasawuf, fikih, akidah, hingga surat-surat untuk menjaga semangat pengikutnya.

Karya-karya tulisnya yang tersebar di berbagai naskah kuno menjadi bukti kedalaman intelektualnya. Ia menulis dalam bahasa Arab, Melayu, dan Bugis-Makassar. Tradisi keilmuan yang ia tanamkan di Sulawesi Selatan, khususnya melalui Tarikat Khalwatiyyah hidup dan berkembang hingga hari ini.

Ratusan ribu orang di Sulawesi dan sekitarnya masih mengamalkan ajaran tarikat yang berakar juga pada tradisi yang ia bawa dari Timur Tengah, yang telah ia racik dengan kearifan lokal Nusantara. Empat ratus tahun setelah kelahirannya, nama Syekh Yusuf menggema di Tanjung Harapan, Afrika Selatan, di Ceylon (kini Sri Lanka), hingga di ruang-ruang akademis dunia.

Ia adalah manusia yang hidupnya menjadi jembatan yang jelas antara spritulisme, perjuangan dan dan cita-cita kemanusiaan yang melampaui zamannya. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan-Barat, Syekh Yusuf bukan sekadar tokoh sejarah, ia adalah waliyullah, kekasih Allah yang kehadirannya tetap dirasakan lintas generasi.

Makamnya di, Gowa, tak pernah sepi dari peziarah. Sementara makamnya di Faure, Afrika Selatan, telah ditetapkan sebagai situs warisan nasional oleh pemerintah Afrika Selatan. Meskipun masyarakat juga meyakini makam dan petilasan yang terdapat ditempat lain.

Gelar Pahlawan Nasional Indonesia yang diberikan pemerintah pada 1995 adalah sebagian kecil dari pengakuan yang layak ia terima. Sesungguhnya, legasinya jauh lebih besar dari sekadar gelar. Ia adalah bukti bahwa seorang manusia, dengan kebenaran, keadilan dan kemanusiaan mampu menerangi dua benua sekaligus.

Syekh Yusuf mewariskan sebuah cara hidup: bahwa iman bukan pelarian dari dunia, melainkan kekuatan untuk mengubahnya. Bahwa keilmuan merupakan pelita untuk menerangi jalan. Bahwa pengasingan sejauh apapun tidak mampu memadamkan nyala kebenaran pada dada seorang yang telah bulat niatnya.

Ia membuktikan menjadi panglima harapan di saat fajar, dan penyair doa di saat malam. Hingga menjadi cahaya di dua Benua. Al-fatihah.

​‍‍⁠‎⁢‏⁡‌⁢‍⁢‏‍​⁢⁢⁢‍⁡⁤⁢‏⁡⁤⁡︄⁡⁢‍​⁡⁣⁡⁠⁢‍⁡⁠‍︄‍︄‍︄‍‍‍︂‍​‍‍‏︃⁢⁠⁡︂⁡‌⁡⁤‍​⁡︃⁡⁠⁡︄⁢⁠⁡︂⁡⁤⁢‎‍​⁡‏⁡⁤‍​⁢‎⁡⁤⁡︄⁡⁤‍︄‍︄‍︄‍‍⁠︃

Ahmad Arfah 13 Juli 2026
Share post ini
Arsip