Skip ke Konten
PARAMETRIC DEVELOPMENT CENTER

Pengantar "Geopolitik, Narasi, Kendali"

21 Juli 2026 oleh
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
‌​Ada buku yang hadir sekadar untuk menambah daftar bacaan. Ada pula buku yang hadir karena zaman memang sedang membutuhkan cara baca baru. Buku yang berada di hadapan pembaca ini, menurut hemat saya, termasuk dalam kategori kedua. Ia tidak lahir dari ruang kosong. Ia ditulis ketika dunia sedang bergerak cepat, ketika peta kekuasaan global berubah hampir setiap hari, ketika perang tidak lagi hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di meja perundingan, layar media, jalur dagang, pangkalan militer, jaringan data, dan ruang kesadaran manusia. Dalam situasi seperti itu, membaca geopolitik bukan lagi urusan para diplomat, jenderal, akademisi hubungan internasional, atau pengambil kebijakan semata. Ia telah menjadi kebutuhan intelektual warga dunia, terutama bagi bangsa seperti Indonesia, yang selalu berada di persimpangan sejarah, jalur laut, sumber daya, kebudayaan, dan kepentingan kekuatan besar.

Buku Geopolitik, Narasi, Kendali karya Muhammad Suryadi R ini saya pandang sebagai sebuah ikhtiar penting untuk membaca ulang dunia yang sedang retak. Penulis tidak sekadar menampilkan peristiwa-peristiwa global sebagai berita yang lewat, tetapi berusaha menangkap pola di balik peristiwa. Ia tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan, melainkan mencoba menghubungkan antara sejarah, kekuasaan, narasi, ekonomi, kebudayaan, dan posisi Indonesia dalam tatanan dunia yang berubah. Inilah kekuatan utama buku ini. Ia tidak menjadikan geopolitik sebagai disiplin yang kering, penuh istilah asing, dan terpisah dari pengalaman bangsa. Sebaliknya, penulis menarik geopolitik ke dalam ruang kesadaran kita sebagai bangsa yang memiliki sejarah panjang, luka kolonial, kekayaan sumber daya, warisan maritim, dan tanggung jawab moral dalam percaturan global.

Saya membaca buku ini dengan satu kesan utama: penulis sedang mengajak kita untuk tidak menjadi penonton. Ini penting. Sebab salah satu penyakit intelektual yang sering menjangkiti bangsa-bangsa pascakolonial adalah kebiasaan membaca dunia dari pinggir. Kita sering merasa bahwa arah sejarah ditentukan oleh Washington, Beijing, Moskow, Brussel, atau Tel Aviv. Kita seakan-akan hanya menunggu dampaknya sampai ke Jakarta, Banda Aceh, Kuala Lumpur, Manila, atau kawasan Asia Tenggara lainnya. Padahal, sejarah Nusantara menunjukkan hal yang sebaliknya. Kita pernah menjadi simpul. Kita pernah menjadi pusat arus. Kita pernah menjadi bagian dari jaringan besar perdagangan, kebudayaan, dan peradaban dunia. Karena itu, pertanyaan besar yang diajukan buku ini bukan semata: apa yang sedang terjadi di dunia? Pertanyaan yang lebih dalam adalah: di mana posisi Indonesia dalam dunia yang sedang berubah itu?

Buku ini timely, sangat tepat waktu, karena ia hadir ketika geopolitik global sedang memasuki fase yang tidak sederhana. Dunia tidak lagi sepenuhnya unipolar sebagaimana terjadi setelah Perang Dingin. Amerika Serikat masih kuat, tetapi tidak lagi sendirian menentukan irama dunia. China bangkit dengan kepercayaan diri ekonomi, teknologi, infrastruktur, dan proyek konektivitas globalnya. Rusia kembali menunjukkan bahwa kekuatan lama tidak pernah benar-benar hilang dari panggung sejarah. Timur Tengah tetap menjadi laboratorium konflik, energi, agama, militer, dan diplomasi global. Iran muncul bukan hanya sebagai negara, tetapi sebagai sistem politik-peradaban yang memiliki daya tahan ideologis. ASEAN berada di tengah tekanan Indo-Pasifik. Laut Cina Selatan menjadi ruang rawan yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi panggung benturan besar. Di tengah semua itu, Indonesia harus memilih: menjadi bangsa yang membaca peta atau bangsa yang hanya dibaca oleh kekuatan lain.

Hal penting dalam buku ini adalah keberanian penulis melihat geopolitik sebagai pertarungan narasi. Judul buku ini sendiri sudah memberi petunjuk: geopolitik, narasi, kendali. Tiga kata ini tidak berdiri sendiri. Geopolitik adalah soal ruang, kekuasaan, sumber daya, jalur, kawasan, dan posisi. Narasi adalah soal siapa yang berhak menjelaskan dunia, siapa yang dianggap benar, siapa yang disebut ancaman, siapa yang disebut pembela demokrasi, siapa yang disebut teroris, siapa yang disebut mitra strategis, dan siapa yang disebut pengganggu stabilitas. Kendali adalah hasil dari keduanya. Siapa yang mampu menguasai ruang dan narasi, ia akan mengendalikan arah sejarah. Karena itu, perang modern tidak hanya memperebutkan wilayah. Ia memperebutkan makna. Tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga membentuk persepsi. Tidak hanya menekan negara melalui militer, tetapi juga melalui sanksi, lembaga internasional, pasar, media, teknologi, dan bahasa moral yang sering kali tidak netral.

Di sinilah buku ini menjadi penting. Penulis berusaha memperlihatkan bahwa dunia kontemporer tidak bisa dibaca hanya melalui peta politik formal. Di atas kertas, semua negara tampak berdaulat. Ada bendera, konstitusi, pemerintahan, wilayah, dan pengakuan internasional. Tetapi dalam praktiknya, kedaulatan sering kali dikurangi, ditekan, dinegosiasikan, bahkan dilucuti melalui instrumen yang jauh lebih halus daripada kolonialisme lama. Negara dapat tetap memiliki simbol kedaulatan, tetapi kehilangan kendali atas ekonomi, data, pangan, energi, teknologi, dan arah kebijakan strategisnya. Penulis menangkap gejala ini dengan cukup tajam ketika membahas ilusi kedaulatan di tengah dunia multipolar. Ini adalah salah satu titik tekan penting buku ini: bahwa kedaulatan abad ke-21 tidak cukup dijaga dengan bendera dan lagu kebangsaan. Ia harus dijaga dengan daya pikir, daya produksi, teknologi, diplomasi, kepemimpinan, dan kemampuan membaca arah kekuasaan global.

Buku ini juga menarik karena penulis tidak membahas geopolitik global dengan melepaskan Indonesia dari sejarahnya sendiri. Ia justru mengembalikan Indonesia kepada memori peradabannya. Dalam esai tentang Make Indonesia Great Again, misalnya, penulis mengingatkan bahwa Indonesia bukan bangsa tanpa akar. Kita memiliki warisan kebudayaan, sumber daya alam, sejarah maritim, ingatan Majapahit, Singasari, Cakrawala Mandala, La Galigo, Konferensi Asia-Afrika, Gerakan Non-Blok, dan pidato Soekarno di PBB. Semua ini bukan sekadar romantisme sejarah. Ini adalah bahan bakar imajinasi geopolitik. Bangsa yang lupa pada sejarahnya akan mudah menerima posisi rendah dalam sistem dunia. Bangsa yang kehilangan memori akan mudah percaya bahwa masa depannya harus selalu ditentukan oleh pihak luar. Karena itu, penulis menempatkan sejarah bukan sebagai museum, tetapi sebagai alat navigasi.

Saya kira inilah salah satu kontribusi penting Muhammad Suryadi R dalam buku ini. Ia membaca geopolitik bukan hanya dari sudut kekuatan militer atau ekonomi, tetapi juga dari sudut kesadaran sejarah. Bagi penulis, Indonesia harus memahami dirinya sebelum memahami dunia. Sebab tanpa pengenalan diri, diplomasi akan berubah menjadi reaksi. Tanpa kesadaran sejarah, politik luar negeri hanya menjadi administrasi hubungan internasional. Tanpa visi peradaban, kekayaan alam hanya akan menjadi komoditas yang diperebutkan. Dan tanpa keberanian moral, prinsip bebas aktif hanya akan menjadi kalimat indah yang diulang dalam pidato resmi, tetapi kehilangan tenaga dalam praktik.

Bagian lain yang kuat dalam buku ini adalah pembacaan penulis terhadap dunia pasca-Amerika dan kebangkitan China. Penulis tidak jatuh pada sikap anti-Amerika yang simplistis, juga tidak terpesona secara buta pada China. Ia membaca pergeseran kekuasaan global sebagai proses yang ambivalen. Amerika memang tidak lagi menjadi pusat tunggal. Tetapi melemahnya dominasi Amerika tidak otomatis melahirkan dunia yang lebih adil. China memang menawarkan alternatif konektivitas, infrastruktur, dan pembangunan, terutama bagi negara-negara Global South. Tetapi kebangkitan China juga harus dibaca secara kritis: apakah ia membuka jalan menuju dunia yang lebih seimbang, atau hanya memindahkan pusat ketergantungan dari Barat ke Timur? Pertanyaan ini penting, karena sejarah menunjukkan bahwa pergantian aktor dominan tidak selalu berarti perubahan struktur ketidakadilan.

Di sini penulis memperlihatkan kedewasaan analitis. Ia tidak membaca dunia secara hitam putih. Ia tidak mengatakan bahwa Barat selalu salah dan Timur selalu benar. Ia tidak menjadikan Amerika sebagai satu-satunya sumber masalah, atau China sebagai jawaban final. Yang ia tekankan adalah perlunya Global South, termasuk Indonesia, membangun daya tawar sendiri. Dunia pasca-Amerika hanya akan bermakna jika bangsa-bangsa yang pernah dijajah tidak sekadar berpindah patron. Jika ketergantungan kepada Washington diganti dengan ketergantungan kepada Beijing, maka dunia baru yang dibayangkan Soekarno tidak pernah lahir. Yang terjadi hanyalah pergeseran pusat dominasi. Karena itu, buku ini mengandung pesan yang sangat jelas: kemandirian adalah syarat dasar martabat geopolitik.

Penulis juga memberi perhatian besar pada ASEAN. Ini patut diapresiasi. Dalam banyak diskusi geopolitik, ASEAN sering dianggap terlalu lamban, terlalu berhati-hati, terlalu normatif, dan kurang memiliki daya paksa. Tetapi penulis melihat ASEAN dari sudut yang lebih strategis. Di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China, ASEAN justru memiliki nilai karena ia tidak lahir sebagai blok militer. Ia lahir dari pengalaman kawasan yang rentan, beragam, dan berkali-kali menjadi arena kepentingan kekuatan luar. Prinsip non-intervensi, musyawarah, konsensus, dan keseimbangan yang sering dikritik sebagai kelemahan, dalam konteks tertentu justru menjadi mekanisme bertahan. Bagi Indonesia, ASEAN bukan halaman belakang. ASEAN adalah panggung pertama bagi kepemimpinan regional. Jika Indonesia gagal membaca ASEAN sebagai ruang strategis, maka Indonesia akan kehilangan pijakan sebelum berbicara di panggung global yang lebih luas.

Dalam konteks ini, gagasan penulis tentang repositioning Indonesia di ASEAN menjadi relevan. Indonesia tidak cukup hanya disebut sebagai negara terbesar di Asia Tenggara. Besar secara demografis dan geografis belum tentu besar secara strategis. Kepemimpinan tidak lahir otomatis dari luas wilayah atau jumlah penduduk. Ia harus dibangun melalui kualitas diplomasi, kekuatan ekonomi, penguasaan teknologi, stabilitas politik, kualitas pendidikan, kemampuan industri, dan kredibilitas moral. Penulis mengingatkan bahwa Indonesia harus bergerak dari sekadar natural leader menuju agenda setter. Ini adalah gagasan yang penting. Sebab dalam dunia multipolar, negara yang tidak memiliki agenda akan menjadi bagian dari agenda orang lain.

Buku ini juga menarik karena menghubungkan geopolitik dengan pendidikan, STEM, teknologi, dan riset. Ini penting karena terlalu sering kita membicarakan geopolitik seolah-olah hanya urusan perbatasan, kapal perang, pidato presiden, atau forum diplomatik. Padahal geopolitik abad ke-21 juga ditentukan oleh laboratorium, universitas, pusat data, semikonduktor, energi baru, kecerdasan buatan, baterai, bioteknologi, dan kemampuan negara menciptakan nilai tambah. Negara yang kaya sumber daya tetapi miskin teknologi akan selalu berada pada posisi rawan. Ia dibutuhkan, tetapi tidak dihormati. Ia diperebutkan, tetapi tidak selalu berdaulat. Ia menjadi sumber bahan mentah, tetapi bukan pengendali rantai nilai. Karena itu, ketika penulis menyinggung hilirisasi, industri strategis, transisi energi, dan kedaulatan teknologi, ia sebenarnya sedang membawa diskusi geopolitik ke jantung persoalan pembangunan nasional.

Salah satu bagian yang saya anggap paling menarik adalah ketika penulis membahas “arus balik” dan kutukan jalur rempah. Di sini terlihat kemampuan penulis menghubungkan sejarah maritim Nusantara dengan struktur ketergantungan modern. Jalur rempah bukan sekadar kisah romantik tentang pala, cengkeh, lada, kapal, dan pelabuhan. Ia adalah sejarah awal bagaimana kekayaan alam dapat berubah menjadi alasan penaklukan. Nusantara dahulu didatangi karena penting. Tetapi justru karena penting itulah ia kemudian dikuasai. Kekayaan yang semestinya menjadi sumber kedaulatan berubah menjadi magnet kolonialisme. Inilah ironi besar bangsa-bangsa kaya sumber daya: mereka sering kali tidak miskin karena tidak memiliki apa-apa, tetapi karena terlalu lama tidak dibiarkan menguasai apa yang mereka miliki.

Refleksi semacam ini sangat penting bagi Indonesia hari ini. Sebab komoditas telah berubah, tetapi logikanya sering kali tetap sama. Rempah telah berganti menjadi batu bara, minyak, gas, nikel, sawit, mineral kritis, data, jalur laut, dan posisi geostrategis. Dunia kembali membutuhkan Indonesia. Tetapi pertanyaannya: apakah kebutuhan dunia terhadap Indonesia akan memperkuat kedaulatan kita, atau justru memperbarui ketergantungan kita dalam bentuk baru? Jika hilirisasi hanya berarti memindahkan sebagian proses produksi ke dalam negeri tanpa penguasaan teknologi, maka kita belum sepenuhnya keluar dari pola lama. Jika investasi asing hanya menjadikan Indonesia sebagai lokasi produksi murah, sementara kendali pasar, teknologi, dan desain industri berada di luar, maka kita hanya mengalami kolonialisme yang lebih sopan bahasanya.

Di sinilah buku ini memberi peringatan penting. Indonesia tidak boleh hanya puas menjadi penting. Banyak bangsa penting dalam sejarah, tetapi tetap tidak berkuasa atas dirinya. Yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar pengakuan bahwa ia strategis, melainkan kemampuan mengubah posisi strategis menjadi daya tawar. Letak geografis harus menjadi kendali atas jalur. Kekayaan alam harus menjadi basis industrialisasi. Kebudayaan harus menjadi soft power. Pendidikan harus menjadi mesin transformasi. Diplomasi harus menjadi alat memperluas ruang gerak, bukan sekadar seni menjaga hubungan baik. Dan sejarah harus menjadi sumber keberanian, bukan sekadar bahan upacara.

Buku ini juga tidak menghindari kritik terhadap kebijakan luar negeri Indonesia. Dalam pembahasan mengenai Board of Peace dan politik bebas aktif, penulis berbicara dengan nada yang tegas. Mungkin sebagian pembaca akan menganggapnya keras. Tetapi saya kira, dalam tradisi intelektual yang sehat, kritik semacam ini diperlukan. Politik luar negeri bebas aktif memang tidak boleh diperlakukan sebagai mantra. Ia harus diuji dalam praktik. Bebas aktif bukan berarti bebas tanpa arah, dan aktif tanpa kalkulasi. Bebas aktif adalah keberanian menjaga jarak dari dominasi kekuatan besar, sekaligus kemampuan mengambil peran aktif dalam membangun perdamaian dan keadilan global. Jika prinsip ini hanya diucapkan tetapi tidak diterjemahkan dalam strategi, maka ia akan kehilangan wibawa.

Penulis tampaknya ingin mengingatkan bahwa warisan Soekarno dalam politik luar negeri bukan sekadar kenangan heroik. Konferensi Asia-Afrika, Gerakan Non-Blok, dan pidato To Build the World Anew adalah ekspresi dari keberanian bangsa muda yang menolak tunduk pada arsitektur dunia yang timpang. Indonesia ketika itu tidak kaya seperti negara industri, tidak memiliki militer sebesar kekuatan adidaya, tetapi memiliki keberanian moral dan visi sejarah. Hari ini, ketika Indonesia jauh lebih besar secara ekonomi, demografis, dan diplomatik, pertanyaannya justru menjadi lebih tajam: apakah kita masih memiliki keberanian moral itu? Atau kita hanya mewarisi simbolnya tanpa tenaga intelektual dan politiknya?

Buku ini menjadi penting karena menghidupkan kembali pertanyaan tersebut. Ia tidak membiarkan pembaca nyaman dengan jawaban-jawaban normatif. Penulis menempatkan Indonesia dalam situasi yang menuntut kecermatan. Di satu sisi, Indonesia harus menjaga hubungan dengan Amerika Serikat, China, Rusia, dunia Islam, Eropa, ASEAN, dan Global South. Di sisi lain, Indonesia tidak boleh kehilangan otonomi strategis. Di satu sisi, Indonesia membutuhkan investasi, pasar, teknologi, dan kerja sama. Di sisi lain, Indonesia tidak boleh menjual kedaulatan kebijakan. Di satu sisi, dunia multipolar memberi peluang manuver. Di sisi lain, multipolaritas juga dapat menyeret negara menengah ke dalam tekanan baru. Inilah dilema yang harus dibaca dengan kepala dingin dan keberanian.

Saya juga melihat bahwa buku ini memberi ruang cukup besar bagi pembacaan terhadap Iran, Amerika Serikat, China, dan Asia Tenggara. Tema-tema ini memperlihatkan bahwa penulis mengikuti denyut peristiwa global yang sedang berlangsung. Namun yang lebih penting, ia mencoba menempatkan peristiwa-peristiwa itu dalam kerangka yang lebih luas. Iran, misalnya, tidak hanya dibaca sebagai negara yang sedang berkonflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Ia dibaca sebagai formasi politik-peradaban yang memiliki memori, ideologi, daya tahan, dan struktur sosial tertentu. Amerika Serikat tidak hanya dibaca sebagai negara adidaya, tetapi sebagai kekuatan yang sedang mengalami krisis legitimasi moral. China tidak hanya dibaca sebagai mesin ekonomi, tetapi sebagai proyek peradaban dan kekuasaan yang sedang menguji tatanan dunia. Asia Tenggara tidak hanya dibaca sebagai kawasan kecil di antara kekuatan besar, tetapi sebagai ruang yang memiliki pengalaman panjang dalam merangkul keragaman dan mengelola keseimbangan.

Dengan cara itu, penulis menawarkan semacam peta intelektual. Peta ini tentu tidak sempurna. Tidak ada buku geopolitik yang dapat merangkum seluruh kompleksitas dunia secara tuntas. Tetapi buku ini memiliki keberanian untuk menyusun hubungan antara peristiwa dan gagasan. Ia membantu pembaca awam memahami mengapa perang di Timur Tengah dapat berkaitan dengan masa depan Asia. Mengapa Laut Cina Selatan bukan sekadar soal garis batas laut, tetapi soal tatanan Indo-Pasifik. Mengapa kebangkitan China tidak dapat dilepaskan dari kegelisahan Amerika. Mengapa ASEAN penting bagi Indonesia. Mengapa sejarah Jalur Rempah masih berbicara kepada nikel, energi, dan industri hari ini. Mengapa narasi demokrasi, perdamaian, dan keamanan global sering kali perlu dibaca dengan curiga, sebab di balik bahasa moral kerap bekerja kepentingan kekuasaan.

Saya ingin memberi titik tekan bahwa buku ini penting dibaca terutama oleh generasi muda, mahasiswa, aktivis, dosen, peneliti, jurnalis, pembuat kebijakan, dan siapa pun yang ingin memahami geopolitik tanpa kehilangan konteks Indonesia. Kita membutuhkan lebih banyak karya yang mampu menjembatani peristiwa global dengan kesadaran lokal. Kita membutuhkan tulisan yang tidak membuat pembaca merasa jauh dari dunia, tetapi justru menyadarkan bahwa dunia selalu hadir dalam kehidupan kita. Harga pangan, energi, teknologi, keamanan data, konflik kawasan, investasi, pendidikan, bahkan arah pembangunan nasional, semuanya terkait dengan dinamika global. Karena itu, ketidaktahuan geopolitik bukan lagi kekurangan intelektual biasa. Ia dapat menjadi kerentanan bangsa.

Kontribusi Muhammad Suryadi R melalui buku ini terletak pada keberaniannya menyederhanakan persoalan besar tanpa meremehkannya. Ia tidak menulis dengan gaya akademik yang kaku, tetapi juga tidak menjadikan isu global sebagai obrolan ringan tanpa kedalaman. Ia memilih bentuk esai, dan pilihan ini tepat. Esai memberi ruang bagi analisis, refleksi, kritik, dan gaya bahasa yang lebih hidup. Melalui esai, penulis dapat bergerak dari Soekarno ke China, dari Pramoedya ke Jalur Rempah, dari Trump ke Iran, dari ASEAN ke masa depan dunia, tanpa kehilangan benang merah. Benang merah itu adalah pencarian atas posisi, martabat, dan kedaulatan dalam dunia yang semakin dikendalikan oleh narasi dan kekuatan besar.

Tentu, setiap buku adalah undangan untuk berdialog, bukan teks suci yang harus diterima sepenuhnya. Pembaca boleh setuju, boleh berbeda, boleh mempertanyakan data, pendekatan, atau penekanan tertentu. Justru di situlah nilai sebuah buku. Buku yang baik bukan hanya memberi jawaban, tetapi memaksa pembaca mengajukan pertanyaan yang lebih baik. Saya kira buku ini memiliki kualitas tersebut. Ia membuka ruang debat tentang arah politik luar negeri Indonesia, masa depan ASEAN, makna kedaulatan, posisi Global South, kebangkitan China, krisis Amerika, dan perang narasi dalam tatanan global. Dalam iklim intelektual yang sering kali dangkal dan cepat puas dengan slogan, buku seperti ini perlu disambut.

Pada akhirnya, saya melihat Geopolitik, Narasi, Kendali sebagai karya yang lahir dari kegelisahan. Kegelisahan melihat dunia yang tidak sedang baik-baik saja. Kegelisahan melihat Indonesia yang memiliki modal besar, tetapi belum selalu mampu mengubah modal itu menjadi kekuatan strategis. Kegelisahan melihat politik luar negeri yang sering mengulang istilah besar, tetapi tidak selalu diikuti ketajaman arah. Kegelisahan melihat generasi muda yang hidup dalam dunia digital global, tetapi belum tentu memiliki peta untuk memahami arus kekuasaan di balik informasi yang mereka konsumsi setiap hari. Dari kegelisahan itulah buku ini memperoleh tenaga.

Saya menyambut baik penerbitan buku ini. Semoga ia menjadi bahan baca, bahan diskusi, dan bahan renungan. Semoga ia mendorong pembaca untuk melihat dunia dengan lebih jernih, tidak mudah terpesona oleh kekuatan besar, tidak mudah takut pada perubahan, dan tidak mudah menerima narasi dominan tanpa pemeriksaan kritis. Lebih dari itu, semoga buku ini mengingatkan kita bahwa Indonesia tidak ditakdirkan menjadi pinggiran. Bangsa ini memiliki sejarah, ruang, sumber daya, kebudayaan, dan pengalaman diplomatik untuk memainkan peran yang lebih besar. Tetapi peran besar tidak akan datang dengan sendirinya. Ia harus diperjuangkan melalui pengetahuan, keberanian, disiplin, dan visi.

Dunia sedang berubah. Peta lama retak. Hegemoni lama belum sepenuhnya mati. Kekuatan baru belum tentu lebih adil. Perang dapat berpindah kawasan. Narasi dapat mengubah korban menjadi tersangka dan agresor menjadi penyelamat. Kedaulatan dapat dikurangi tanpa invasi. Dalam situasi seperti itu, membaca adalah bentuk kewaspadaan. Berpikir adalah bentuk pertahanan. Dan menulis, sebagaimana dilakukan penulis buku ini, adalah bagian dari usaha kecil tetapi penting untuk merebut kembali cara kita memahami dunia.

Darussalam, Banda Aceh, 13 Mei 2026

Ebook buku ini dapat diakses pada link di bawah
https://repository.iainpare.ac.id/id/eprint/12479/

​‍‍⁠‎⁢‏⁡‌⁢‍⁢‏‍​⁢⁢⁢‍⁡⁤⁢‏⁡⁤⁡︄⁡⁢‍​⁡⁣⁡⁠⁢‍⁡⁠‍︄‍︄‍︄‍‍‍︂‍​‍‍‏︃⁢⁠⁡︂⁡‌⁡⁤‍​⁡︃⁡⁠⁡︄⁢⁠⁡︂⁡⁤⁢‎‍​⁡‏⁡⁤‍​⁢‎⁡⁤⁡︄⁡⁤‍︄‍︄‍︄‍‍⁠︃

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad 21 Juli 2026
Share post ini
Arsip