Masa Depan Dunia adalah salah satu buku rekomended untuk memahami mengapa realitas geopolitik dunia bisa terjadi seperti saat sekarang ini. Di dalam buku ini, Kamaruzzaman menyajikan tujuh argumennya yang terangkum dalam tujuh bab. Penulisan buku ini adalah kelanjutan dari buku Satu Dasawarsa the Clash of Civilization: Membongkar Politik Amerika di Pentas Dunia, yang telah ia tulis pada tahun 2003. Buku Masa Depan Dunia ini adalah hasil penelitian yang telah dilakukannya selama puluhan tahun. Ketika menulisnya, ia berumur 25 tahun dan baru benar-benar selesai ketika usianya menginjak 39 tahun.
Berbeda penulis-penulis buku-buku berat lainnya, Kamaruzzaman menyajikan buku ini dengan bahasa sederhana, lugas, dan cukup sistematis. Penulisan buku ini berangkat dari korespondensi panjang, diskusi, silaturahmi intelektual, dan perjumpaan-perjumpaannya dengan pemikir-pemikir seperti, Stephen Roche, Christoper Joll, Ken Miichi, Tatsuya Tanami, Michiko Taki, Michiko Yoshida, Azyumardi Azra, Taufik Abdullah, Eman Hermawan, dan pemikir-pemikir lainnya. Secara pribadi, buku ini tidak hanya penting, melainkan bacaan yang melegitimasi keyakinan-keyakinan saya selama ini bahwa tatanan global dunia saat ini adalah by design oleh satu kekuatan tunggal. Buku ini sekaligus mengafirmasi beberapa analisis-analisis saya terkait prediksi-prediksi yang akan terjadi ke depan.
Dalam buku ini juga, Kamaruzzaman sangat kuat menyajikan hipotesisnya. Ia menjelaskan dengan sangat baik bagaimana Barat membangun Order lalu disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Kamaruzzaman tidak menafikkan bahwa karya Samuel Hungtington: The Clash of Civilizations and Remaking of World Order dan buku-buku murid Huntington: Francis Fukuyama: The Great Disruption, The Last Man and The Last History, The Origins of Political Order, memberinya petunjuk dalam membedah tatanan dunia dengan tajam dan kritis. Selain itu, karya fenomenal Henry Kissinger: World Order dan Diplomacy, membentuk keyakinan geopolitiknya dan selanjutnya ia paparkan di bab akhir dalam buku ini.
Bermula dan Sementara Itu
Order dalam buku ini adalah kata kunci untuk memahami bagaimana dunia terbentuk seperti sekarang. Mula-mula, istilah order diambil dari konsep Alexis de Tocqueville. Alexis mengartikan order sebagai way things are arranged. Order dalam konsep ini adalah segitiga yang saling berhubungan yang dinyatakan melalui persaingan antar negara-negara di dunia. Negara-negara regional order (negara-negara berkembang) agar bisa merangsek ke jajaran international order harus melalui persaingan kekuasaan dan konflik. Persaingan mencapai puncak tertinggi order harus dijalani melalui peperangan. Itu sebabnya, setiap kemunculan negara maju pasti membawa perangkat order baru dan selamanya pasti dimulai dengan peperangan. Siapa yang memenangkan peperangan, dialah yang berhak menciptakan tatanan international. Pasca perang dingin, dunia berubah menjadi unipolar dengan Barat sebagai ordernya dan dipimpin Amerika Serikat.
Terkait ini, sarjana-sarjana Barat telah menulisnya dengan sangat provokatif. Francis Fukuyama misalnya dalam bukunya The Last Man and The Last History. Bahwa kapitalisme-liberalisme Barat terbukti lebih kuat ketimbang komunisme-sosialisme Timur: Uni Soviet. Ada Samuel Huntington dalam The Clash of Civilization, menggagas desain order kontemporer Barat. Ia mengupas perjalanan order-order yang pernah ada. Kelemahan Eropa, China, Buddhisme, Hinduisme, dan Islamisme dipetakan. Bahwa pengalaman perang di masa lampau adalah dasar yang menjadi keberanian bagi Barat untuk mengatakan bahwa Barat yang terbaik hari ini. Di masa depan, Barat menjadi pemain utama, dimana masa depan Barat adalah kapitalisme pada sistem ekonominya dan demokrasi liberal sebagai sistem politiknya.
Untuk itu, Barat memunculkan konflik 10 tahun sekali dengan peradaban lainnya. Hal ini dilakukan semata-mata demi menghilangkan pengaruh Non-Barat. Apalagi memang dalam sejarahnya, Barat memulai peradaban mereka dengan militer, invasi, dan penyebaran agama. Dalam sejarah, peradaban Barat sesungguhnya adalah peradaban Eropa yang berasal dari Euro-Amerika dan Atlantik Utara. Secara kebudayaan, Eropa mewarisi Yunani dan Romawi. Kebudayaan Eropa banyak dipengaruhi oleh pemikiran, seni, musik, bahasa, etnik, dan agama dari Yunani dan Romawi. Secara bahasa, Barat menggunakan bahasa Inggris. Sebelum berbahasa Inggris, di masa-masa awal, bahasa Latin adalah bahasa kerajaan yang lebih populer. Baru ditahun 1362 bahasa Inggris menjadi bahasa supremasi ketika raja pada saat itu menggunakannya dalam pidato resmi kerajaan.
Dalam sistem agama, masyarakat Barat sesungguhnya tidak dihuni oleh agama dari tradisi Abrahamik. Pengaruh ajaran dari filsuf Yunani dan Romawi sangat membekas di Eropa kala itu. Sementara, agama Kristen baru menyebar ke Eropa sekitar abad keempat masehi. Meski demikian, Barat tidak bisa selalu identik dengan Kristen. Sebab, pasca Haskalah -gerakan intelektual Yahudi abad 18-19 yang mengadopsi modernitas, rasionalisme, dan pendidikan sekuler-, kaum Yahudi berupaya mengintegrasikan diri ke dalam masyarakat Non-Yahudi. Kaum Yahudi meyakini mereka adalah manusia pilihan Tuhan yang harus menyampaikan kebenaran kitab Talmud, sehingga mereka menyebarkan pengaruh Judaisme ke seantero dunia. Dalam sejarahnya, kaum Yahudi mengalami berbagai peristiwa kelam. Yang paling berdarah adalah pembantaian yang dilakukan Hitler.
Ketika Hitler melakukan proses genosida terhadap kaum Yahudi di Eropa, mereka tidak membalas membantai bangsa Eropa, melainkan melakukan pencerahan Yahudi. Faktor ini pada gilirannya sukses menginfiltrasi Barat, sehingga mereka tidak hanya mendapatkan kemerdekaan sebagai negara Israel, tetapi menjadi kekuatan utama yang menguasai sistem pemerintahan di Amerika Serikat. Baik Yahudi dan Kristen, agama dalam kepercayaan Barat memainkan peran cukup signifikan. Hanya saja, peran agama dipisahkan dari ruang publik dan kegiatan sosial politik. Eropa muncul sebagai kekuatan besar ketika kolonialisme disebarkan di wilayah Barat dan Timur pada abad ke-15 dan 17. Abad ini disebut Hungtingtion sebagai era politik global. Era ini terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama terjadi pada tahun 1540-1690 disebut era konsolidasi sebagai bangsa modern. Tahap kedua, pada tahun 1792-1870 disebut dengan era nation-state.
Salah satu temuan berharga Eropa adalah Amerika. Berawal dari pelayaran yang dilakukan oleh Amerigo Vespucci dari Florentine yang melakukan pelayaran ke Brazil. Amerigo kemudian mempublikasikann hasil temuannya. Sebagai balas jasa atas sumbangsih Amerigo, namanya kemudian menjadi nama wilayah tersebut (America). Saat itu, Eropa yang datang ke benua tersebut lebih tertarik mendiami Amerika bagian utara, yang nantinya akan menjadi Amerika Serikat dan Kanada. Maka tak heran, Amerika Serikat dan Kanada adalah Eropa itu sendiri. Kendati belakangan kolonialisme Inggris menguat di sana, tetapi Amerika berhasil merdeka dari Inggris dan mendirikan Amerika Serikat pada tahun 1776. Dalam konteks geopolitik modern, faktor Amerika Serikat didaulat sebagai pemimpin negara Barat karena sumbangsihnya terhadap tiga perang besar pada abad 20, yakni Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan Perang Dingin.
Setelah Itu dan Ternyata
Pasca perang dingin, Amerika Serikat mendesain tatanan (order) lebih massif dari sebelumnya dan diberlakukan di seluruh dunia. Memasuki abad 21, Amerika Serikat menemukan batu sandungan yang akan membahayakan mereka. Mereka adalah China. AS menganggap China telah melakukan lompatan signifikan beberapa dasawarsa belakangan. Bahkan para ahli strategi AS dalam banyak karya-karyanya memfokuskan penelitiannya untuk mempelajari China. Selain China, pasca revolusi 1979, Iran masuk sebagai daftar negara berbahaya bagi kepentingan AS di Timur Tengah. Dalam mempersiapkan diri menghadapi tahun-tahun mendatang, AS mendesain satu draft besar yang disebut Mapping Global Future. Draft ini berisi skenario yang akan dihadapi AS setiap lima tahun ke depan, yang dinyatakan dalam Laporan Global Trends. Dalam skenario Global Trends 2025 dan 2030, China dan BRICS adalah ancaman nyata.
Bahkan, lembaga Think Tank di Amerika Serikat telah menganalisis China dan Iran secara khusus. Militer AS menilai kekuatan intelijen dan kemampuan militer China telah berkembang sangat kuat. Sebelum sampai ke China, menyelesaikan Islam terlebih dahulu adalah fokus Barat. Setelah keruntuhan Uni Soviet, Barat melirik Islam sebagai order yang mengancam kepentingan mereka. Kita lihat pada tahun 2001, bagaimana persoalan terorisme mengguncang dunia. Labelisasi terorisme demikian mudahnya disematkan kepada negara, organisasi dan individu tertentu hanya karena tidak sejalan dengan kepentingan Washington. Islamphobia merajalela, Osama bin Laden dibunuh, dan Amerika Serikat menyerang membabi buta di Timur Tengah. Sepuluh tahun berikutnya: 2011, dunia Timur Tengah kembali digoncang. Diawali dengan Arab Spring, beberapa negara Timur Tengah tumbang. Presiden Libya, Muammad Qadaffi, bahkan harus dibunuh dan dipertontonkan di hadapan media seluruh dunia.
Salah satu alasan mereka harus dibunuh karena tidak ingin menuruti kemauan Amerika Serikat kala itu. Apa yang dilakukan Barat di Timur Tengah dan kepada negara-negara Islam lainnya adalah cara Barat agar hegemoninya tetap menancap. Sebab, salah satu syarat terpenuhinya tatatan dunia menurut Barat adalah menghapus dan menghilangkan peran Islam. Para penulis, peneliti, pengambil kebijakan strategis bahkan mengarahkan kajian dan rekomendasinya kepada upaya destruksi Islam. Selain itu, pemikir-pemikir Barat sampai rela mengeluarkan daya upayanya sekuat tenaga mengkotak-kotak Islam ke dalam istilah akademis. Pengkotakan ini dilakukan dengan membagi Islam ke dalam “gerakan yang sesuai” dan “yang tidak sesuai”. "Gerakan yang sesuai" dimaksud di sini tentunya adalah kelompok-kelompok Islam yang sejalan dengan ideologi dan kepentingan Barat, seperti sekularisme, negara-bangsa, dan modernisme. Sementara yang dikotakkan ke dalam “yang tidak sesuai” disebut fundamentalisme, radikalisme, dan puritanisme.
Dengan fragmentasi seperti itu kekuatan Islam akan sulit terkonsolidasikan. Kendati demikian, banyak studi yang mengungkap banyak hal lain terkait fragmentasi Islam. Bahwa pengkotakan Islam ke dalam istilah-istilah semacam itu sebenarnya kabur. Sebab, kelompok Islam fundamentalisme-puritanisme seperti Wahabi, justru menjadi alat Barat untuk memproteksi kepentingan politiknya di Arab Saudi. Dokumen Epstein bahkan mengungkap, ekstrimisme Islam yang diwakili Al-Qaeda dan ISIS adalah peliharaan Amerika Serikat. Hal yang sama terjadi dengan kelompok modernisme, yang dipakai untuk menyerang local wisdom, yang selama ini djaga oleh kelompok Islam tradisional. Dalam konteks ideologi, isu Sunni-Syi’ah dimainkan sebagai propaganda Barat untuk memprovokasi pemimpin Islam Sunni agar tidak berada dalam satu barisan mendukung perjuangan Iran melawan AS-Zionisme Israel seperti yang terjadi saat ini.
Akhirnya
Ke depan, Barat mengendalikan dunia tetap akan menggunakan skenario konflik. Dalih yang digunakan akan selalu sama: kestabilan, isu nuklir, hak asasi manusia, dan perdamaian. Selain cara militer, Barat sejak lama menggunakan sains sebagai hegemoni agar bisa menanamkan pengaruhnya di dunia. Hal ini bisa kita lihat pada standar publikasi dan penerbitan. Scopus dijadikan standar international untuk menilai kualitas akademik seseorang. Karir seseorang dianggap mentereng di dunia akademik apabila jurnalnya tembus ke jurnal Scopus. Sehingga, mereka yang tidak mampu menerbitkan artikelnya di jurnal bergengsi di level international, tidak akan dianggap sebagai bagian dari kontribusi dalam dunia akademik. Dengan demikian, produksi artikel ilmiah bergeser menjadi sistem kapitalisasi ilmu pengetahuan.
Di sektor teknologi, Barat merekayasa ilmu pengetahuan untuk mendukung proyek global governance. Sebelum ke sana, teknologi mula-mula dihadirkan untuk membantu manusia. Selama ini manusia menganggap teknologi sebagai teman bagi manusia. Tetapi, Neil Postman mengatakan bahwa teknologi tidak berdiri sendiri, ia selamanya hadir bersama ideologi, salah satu efeknya adalah ketergantungan. Di hadapan teknologi, manusia tidak akan menjadi subjek otonom, melainkan subjek yang dipengaruhi. Dengan menciptakan ketergantungan terhadap teknologi, manusia akan mudah dikendalikan. Sederhanya, tujuan Barat menciptakan teknologi untuk keseragaman. Keberagaman manusia ingin diseragamkan oleh Barat melalui teknologi, baik sistem berpikirnya, sistem pemerintahannya, kebudayaannya. Fenomena ini disebut dengan Uniformity in Diversity (keseragaman dalam keberagaman).
Proyek global governances adalah tatanan dunia tunggal yang akan melalui tahapan rekayasa sedemikian rupa. Di dalam proyek ini, sistem tata kelola dunia akan dioperatori oleh global citizen. Global citizen adalah tahap perkembangan masyarakat modern yang telah melampaui masyarakat tradisional yang masih percaya agama dan mitos. Kosmologi dalam konsep ini adalah masyarakat yang menjadikan sains dan teknologi sebagai raja yang dapat mengatasi masalah eksistensial. Apa yang kita sebut sebagai masyarakat kosmopolitan sesungguhnya adalah bentuk masyarakat yang diinginkan Barat, dimana semua masyarakat akan terhubung tanpa batas dan sekat primordial. Hampir separuh perjalanan telah dilalui. Ketika era pencerahan memunculkan revolusi industri, manusia mulai memetik perjuangannya selama berabad-abad sebelumnya. Manusia telah memasuki tahapan industrialisasi dan selanjutnya mengusung modernisme sebagai jalan pembaratan masyarakat di seluruh dunia.
Ambisi Barat sebenarnya tidak berhenti di sini. Mereka terus mengupayakan penciptaan satu desain besar yang berbeda dengan pengalaman hidup manusia yang pernah dilalui selama ini. Mereka menyebutnya dengan istilah Planetary Civilization. Hari ini, pra-kondisinya sudah tercapai. Kecerdasan buatan hadir dan memenuhi seluruh hajat hidup banyak manusia. Sebagai bayangan, Kamaruzzaman menjelaskan planetary civilization erat kaitannya dengan Higher Intelligence. Dalam skenario ini, sains dan teknologi telah membuktikan apapun yang gaib. Jika sains sebelumnya hanya membuktikan gejala empiris, maka ke depan sains akan membuktikan semuanya. Keberhasilan ini akan diikuti oleh masyarakat seluruh dunia lalu manusia di dunia ini akan mengabdikan dirinya pada sains dan teknologi. Tetapi, kemajuan peradaban ini sekaligus akan menggerus kemanusiaan dan akan membawa manusia pada kehancuran. Saat ini, Barat berupaya keras melakukan kontak dengan makhluk luar angkasa. Tujuannya adalah eksploitasi energi yang akan digunakan untuk menghubungkan manusia dengan galaksi dan bimasakti.
Untuk mencapainya, proyek SETI (Search for Extraterrestial Intelligence) dilakukan. Manusia mencari jalan keluar untuk mengatasi kekurangan energi di bumi di masa mendatang. Barat meyakini terdapat potensi energi jauh lebih besar yang tersimpan di planet-planet selain di bumi. Energi yang besar ini akan digunakan untuk mendukung proyek ketahanan hidup manusia di masa mendatang. Sederhananya, proyek ini adalah proyek keabadiaan. Sebab, berita tentang kiamat merupakan perhatian utama pemikir dan ilmuan Barat sebagaimana yang selalu mereka tampilkan di film-film Hollywood. Di titik inilah, energi luar angkasa sangat mereka butuhkan untuk mendukung kelangsungan hidup dalam keabadian.
Pada titik dimana Barat memimpikan kemajuan peradaban, di saat bersamaan nantinya prediksi-prediksi yang dinyatakan dalam al-Qur’an akan terbukti. Di masa ini, kebangkitan Islam benar-benar terwujud. Dalam konteks ini, hanya Islam yang memiliki perangkat yang paling siap dalam menyambut planetary civilization. Hanya saja, hal mendasar dari kebangkitan Islam di masa mendatang adalah kesadaran generasi baru Islam untuk mampu berkompetisi secara global dan ini belum terjadi sekarang. Meski begitu, Kamaruzzaman dalam buku ini mengajak kita semua untuk merenungi skenario lorong waktu yang telah didesain. Sejarah yang akan dihadapi oleh umat manusia ke depan adalah satu episode yang akan menjadi pertanda bahwa hasil ciptaan manusia akan berakhir sebagaimana takdir bumi yang akan berakhir pada waktunya.
Apa Kabar Indonesia
Di masa yang akan datang, sejarah akan berulang. Kepungan demi kepungan kekuatan luar akan menjadi sebab Indonesia berjibaku keras. Karena itu, takdir Indonesia adalah sejarah, alam, dan manusia. Maksudnya, Indonesia punya memiliki segalanya untuk sekedar survive dari tekanan eksternal. Indonesia ini adalah DNA kerajaan kuat di masa lalu. Kekuatan sumber daya alam yang melimpah adalah modal alamiah yang hanya perlu dioptimalkan guna mendukung pembangunan bangsa. Namun demikian, sejarah Indonesia adalah sejarah jatuh bangun sebagaimana sejarah pendahulu sebelum Indonesia. Untuk menghadapi skenario masa depan, Indonesia harus mempelajari kembali spirit Majapahit.
Hal ini pernah diungkap Pramoedya Ananta Toer, dalam bukunya Arus Balik. Bahwa di masa kejayaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara. Pernyataan ini adalah pesan geopolitik yang sangat kuat. Betapa Majapahit sanggup mengubah definisi kekuasaan dunia yang berpusat di Barat. Artinya, jika masa lalu, para leluhur memiliki ilmu-ilmu yang digdaya, mengapa pada masa kini, sepertinya ilmu tersebut belum terwariskan kepada generasi kekinian. Hal ini sepertinya disebabkan oleh karena adanya pembelokan spirit bangsa yang bukan mengantarkan pada kemajuan, tetapi lebih kepada posisi bertahan di dalam kepungan peradaban-peradaban besar lainnya.
Pasca Majapahit, arus kembali bergerak dari utara ke selatan lalu dan pada gilirannya menggerogoti kerajaan-kerajaan di Nusantara. Di era nation-state, Indonesia adalah pewaris Majapahit yang kehilangan Master Plan. Sementara, tahun 2045 akan menjadi seratus tahun Indonesia. Sejak Indonesia merdeka, Amerika Serikatlah yang paling dominan melakukan proses modernisasi Indonesia. Karena itu, tidak ada sedikitpun reproduksi intelektual di Indonesia yang tidak melibatkan Amerika Serikat. Meskipun dalam perjalanannya China melakukan infiltrasi pelan-pelan dan kini menjadi kuat. Bahkan, Indonesia adalah negara dengan penduduk China yang cukup signifikan setelah Singapura.
Singkatnya, Indonesia adalah surga dunia yang dapat terjadi apa saja demi amannya kepentingan negara-negara asing. Beberapa ramalan menyebutkan Indonesia bisa bangkit di masa yang akan datang. Salah satu indikasinya adalah kedudukan Indonesia sebagai “as a friend, but not as ally”. Indonesia bisa menjadi teman kepada siapapun, tapi tidak bisa diajak sebagai aliansi.