Skip ke Konten
PARAMETRIC DEVELOPMENT CENTER

Edward Said dan Orientalisme: Gugatan Atas Subjetifikasi Timur

5 Juli 2026 oleh
Muhammad Akbar

“Menggugat hegemoni Barat dan mendudukkan Timur sebagai subyek” merupakan kalimat yang tertera pada sampul bawah buku Orientalisme -sebuah karya yang memicu kontroversi luas, tidak hanya di kalangan Barat tetapi juga di Timur. Dari sekitar 25 karya yang ditulis oleh Edward Said, buku ini menjadi yang paling fenomenal.

Orientalisme tidak hanya dikenal di lingkungan akademisi, tetapi juga menjadi bahan diskusi di kalangan pendakwah Islam, menunjukkan pengaruhnya yang melampaui batas disiplin ilmu dan komunitas intelektual.

Edward Said adalah seorang intelektual Palestina yang hidup dalam paradoks identitas. Lahir di Yerusalem pada 01 November 1935, ia kemudian mengungsi ke Mesir pasca kekalahan Palestina tahun 1947 dan menjadi imigran di Amerika Serikat sejak 1951. Sebagai seorang Kristiani yang tumbuh di lingkungan mayoritas Muslim serta seorang diaspora yang lama hidup di pengasingan, Said kerap merasakan keterasingan dari tanah airnya sendiri.

Ia dikenal vokal memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina hingga wafat pada 25 September 2003 di usia 67 tahun, di tengah konflik yang belum berkesudahan. Bagi Said, perjuangan bukanlah soal identitas agama semata, melainkan tentang nilai-nilai kemanusiaan yang sering kali terpinggirkan.

Banyak tokoh pemikir yang mempelopori kajian pascakolonial, Edward Said tidak sendirian. Aime Cesaire dan Frans Fanon misalnya, telah melakukan hal yang sama. Tetapi, Orientalisme-lah yang mengkritik kolonialisme secara diskursif.

Edward dalam buku ini memberi batasan-batasan pembahasan. terutama bagaimana Inggris, Prancis, dan Amerika memperlakukan Timur. Tiga imperium besar ini menjadi titik tolak Edward. Karena ketiganya sama-sama menemukan latar historis dan intelektual dalam Orientalisme.

Edward mengakui Orientalisme berutang budi teori Genealogi. Tetapi bagi Edward, orientalisme tidak saja soal relasi kuasa yang membentuk citra Timur, dihasilkan melalui satu pertukaran berbagai jenis kekuasaan.

Secara umum, orientalisme adalah cara pandang, studi, atau konstruksi pengetahuan Barat terhadap dunia Timur, yang seringkali menempatkan Barat superior atas Timur. Awalnya, orientalisme hanya cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari bahasa, agama, budaya, dan sastra bangsa Timur. Tetapi, Barat tidak sekadar melangkah jauh. Ia ingin menundukkan Timur. Dari situ kemudian orientalisme menjadi diskursu akademik di Universitas-universitas Barat.

Tahapan Relasi Kuasa

Dalam buku ini, Edward membagi lima jenis relasi kekuasaan. Pertama, kekuasaan politis yang membentuk kolonialisme dan imperialism. Kedua, kekuasaan intelektual yang mendidik Timur melalui sains, linguistik, dan pengetahuan lain. Ketiga, kekuasaan kultural dalam hal ini kebudayaan. Keempat, kekuasaan moral yang berkaitan dengan apa yang baik dilakukan dan tidak baik dilakukan oleh Timur. Kelima, relasi tersebut beroperasi berdasarkan model ideologi yang disebut oleh Antonio Gramsci sebagai hegemoni, yaitu suatu pandangan bahwa gagasan tertentu lebih berpengaruh dari gagasan lain, dan kebudayaan tertentu lebih dominan dari kebudayaan-kebudayaan lain.

Orientalisme pada hakikatnya tidak lebih hanya sebagai bentuk legitimasi atas superioritas kebudayaan Barat atas kebudayaan Timur. Representasi atau perwakilan menjadi satu konsep kunci dalam ini. Representase dalam konteks ini bukan persoalan benar atau salah, bukan formasi tetapi deformasi. Identitas Timur direpresentasikan, diformasikan, lalu dideformasikan secara terus menerus tanpa henti.

Timur dalam wacana Barat hanya berfungsi layaknya panggung drama. Di atas panggung ini Timur diperankan dan para orientalis sebagai sutradaranya. Timur disuguhkan sedemikian rupa kepada para penonton yang terdiri bukan hanya pada pembaca Barat, tetapi juga mereka yang membenarkan skenario sang sutradara. Bagi Barat, Timur benar-benar tak punya tanda, kecuali warna cokelat tua.

Persoalan identitas merupakan sesuatu yang tidak pernah utuh. Barat seolah-olah membentuk identitas Timur, mempelajari sejarah, sastra, bahasa Timur, sehingga menjadikan Timur layaknya papan tulis, yang jejak-jejaknya bisa dihapus, agar orang Barat bisa menerapkan nilai-nilai mereka disana untuk diikuti oleh bangsa yang tinggal di dalamnya. Singkatnya orientalisme bergerak pada ruang-ruang identitas semacam ini.

Sebab itu, Barat berhasil menciptakan batas-batas yang tegas antara Timur dan Barat, dan batasan ini benar-benar bukan fiksi atau sekadar imajinasi dalam pikiran. Orientalisme lebih bermakna sebagai tanda superioritas Barat terhadap dunia Timur. Di Barat, institusi-institusi kajian Timur telah dibangun, kebijakan-kebijakan ditetapkan bagi mereka yang mengaku sebagai Timur, dan yang paling mengerikan: invasi mulai digalakkan kembali ke wilayah-wilayah Timur.

Kini Timur bukanlah sekadar imaji Barat, bukan pula negeri impian dan ilusi. Timur adalah barang praktis material Barat. Ia diciptakan, dikonstruksi, dan disebarkan melalui pranata-pranata Barat.

Bab-bab Penting

Pada bab 1, Edward mencoba mendefinisikan apa yang ia maksud dengan Orientalisme. Ia melakukannya melalui evaluasi terhadap cara orientalis secara umum melihat Asia atau Timur secara geografis, moral, dan budaya. Edward menyusun argumennya menentang orientalis Arthur James Balfour dan Lord Cromer tentang pengalamannya di dunia Timur. Edawrd menyajikan bagian-bagian pidato Balfour dan Cromer, mengurai argumennya, kalimat demi kalimat, dan kata demi kata.

Dengan cara itu, Edward menemukan dasarnya argumennya dalam literatur. Bahwa orientalisme terbentuk dari definisi dan pemahaman yang telah ada sebelumnya. Pada intinya, orientalisme mewakili sistem pengetahuan dan kekuasaan yang dirasakan terkait Timur yang membingkai interaksi dengan Barat. Edward dalam Bab ini menetapkan garis waktu sejarah perkembangan orientalisme melaului abad ke-18 hingga ke-20.

Pada bab 2, Edward merinci perubahan yang terjadi dalam orientalisme pada abad ke-18 untuk memahami orientalisme abad ke-19 dan ke-20. Orientalisme abad ke-18 pada dasarnya mengalami pergeseran dari basis keagamaan ke basis sekulerisme. Ini terjadi karena ekspansi bukan lagi pada wilayah Timur Islam melainkan keseluruh Timur.

Sejarah orientalisme adalah sejarah penciptaan “Orientalis Modern” yang menganggap dirinya sebagai pahlawan dalam menyelamatkan Timur. Orientalisme abad di 19 dan 20, konsepnya disekulerkan dan dicirikan sebagai kekuasaan yang bersemayam dalam ilmu filologi dan antropologi yang baru dan maju secara ilmiah.

Memahami pergeseran ini penting. Sebab ilmu filologis dan antropologis adalah kunci memahami bagaimana orientalisme bergerak di abad 18. Tetapi, transisi dari konteks keagamaan beralih ke konteks ilmu filologi dan antropologi sebenarnya sama sekali tidak berubah, meskipun argumen para orientalisme berubah, namun secara karakteristik esensial tetap sama.

Pada bab terakhir, Edward membedakan Orientalisme Laten dan Orientalisme Manifest. Orientalisme manifest adalah bagaimana ciri-ciri laten tersebut dimasukkan ke dalam kebijakan Oriental Modern. Sementara Orientalisme Laten tidak dapat berubah, Orientalisme manifest dapat, dan memang berubah.

Dengan membagi orientalisme menjadi orientalisme laten dan manifest, Edward mampu menjelaskan bagaimana dasar orientalisme sebenarnya sama saja, hanya dibedakan dari tujuan politik, tergantung periode atau negara. Edward juga mengatakan bahwa perkembangan orientalisme laten inilah yang memungkinkan terciptanya gagasan-gagasan seperti “Darwanisme tingkat kedua” atau Darwanisme sosial,” yang mengkategorikan dan memberi peringkat budaya dan masyarakat berdasarkan ras.

Orientalisme laten dengan demikian menjelaskan mengapa selama periode ini Inggris dan Prancis memandang diri mereka memiliki hak tradisional atas Timur. Namun, kesulitan selama periode ini adalah benturan antara Orientalisme Laten Tradisional yang bersifat nyata dengan berorientasi pada kebijakan. Meskipun Edward telah menekankan perbedaan antara Orientalisme Inggris dan Prancis, ia berpendapat bahwa perbedaan antara orientalisme laten dan nyata jauh lebih penting.

Pada bagian akhir Orientalisme, Edward Said memfokuskan analisisnya pada periode pasca Perang Dunia II hingga era kontemporer. Ia mencatat bahwa dominasi orientalisme yang sebelumnya dipegang Inggris dan Prancis beralih ke Amerika Serikat, yang memandang Timur terutama dalam kerangka kebijakan publik. Amerika kemudian menegaskan hegemoninya melalui empat bidang utama.

Pertama, dalam representasi populer, terjadi pergeseran dari pendekatan sastra ke ilmu sosial; setelah Perang Arab-Israel 1973 dan meningkatnya kebutuhan minyak global, citra orang Arab menjadi semakin negatif, dipenuhi ketakutan akan dominasi dunia oleh Muslim. Kedua, orientalisme berubah dari kajian ilmiah menjadi alat politis yang mendukung kepentingan negara. Ketiga, Amerika melanggengkan mitos stagnasi bangsa Semit untuk membenarkan intervensi Barat. Keempat, orientalisme diterima sebagai sesuatu yang “valid” karena didukung oleh sistem pengetahuan yang membungkam suara-suara penentangnya. Dengan demikian, Said menegaskan bahwa orientalisme gagal memahami Timur sebagai pengalaman manusia, karena sejak awal ia telah mendehumanisasi subjek yang dikajinya.

Meskipun kritik Edward banyak diarahkan pada para pendahulunya, ia mengakui bahwa tidak semua kajian orientalisme sepenuhnya buruk, bahkan pemikirannya sendiri dibangun di atas karya-karya sebelumnya. Namun, kekuatan utama karyanya terletak pada keluasan dan kedalaman analisisnya dalam membongkar dampak orientalisme. Dalam bagian penutup, Edward menanggapi kritik yang menuduh karyanya bersifat anti-Barat. Ia menegaskan bahwa kritik terhadap orientalisme tidak berarti dukungan terhadap fundamentalisme, melainkan upaya mengungkap bagaimana Barat membangun konstruksi tentang Timur.

Tujuan utamanya adalah membebaskan intelektual dari kerangka berpikir yang bias dan membuka ruang bagi perspektif yang lebih adil. Lebih jauh, kontribusinya menjadi penting dalam kajian pascakolonial, khususnya dalam memberi suara kepada kelompok-kelompok yang terpinggirkan. Ia menutup dengan menegaskan bahwa kajian orientalisme masih memerlukan banyak pengembangan, sekaligus menunjukkan komitmennya untuk terus merespons kritik melalui karya-karya lanjutan.

Muhammad Akbar 5 Juli 2026
Share post ini
Arsip