Skip ke Konten
PARAMETRIC DEVELOPMENT CENTER

Sebuah Pengantar Memahami IRAN

5 Juli 2026 oleh
Muhammad Suryadi R

‌​​‏⁠⁠︁‍‍⁢⁢⁡⁠⁡‍⁢‎⁡⁤⁢‏⁡⁠⁠︅⁡‍⁡︂⁡︅⁡⁢‍‍‍︂‍​‍‍⁠‎⁢‏⁡‌⁢‍⁢‏‍​⁢⁢⁢‍⁡⁤⁢‏⁡⁤⁡︄⁡⁢‍​⁡⁣⁡⁠⁢‍⁡⁠‍︄‍︄‍︄‍‍‍︂‍​‍‍‏︃⁢⁠⁡︂⁡‌⁡⁤‍​⁡︃⁡⁠⁡︄⁢⁠⁡︂⁡⁤⁢‎‍​⁡‏⁡⁤‍​⁢‎⁡⁤⁡︄⁡⁤‍︄‍︄‍︄‍‍⁠︃Wisnu Yudha Wardhana menulis buku “Iran: Dari Sejarah, Budaya, Sosial Politik, hingga Dinamika Globalnya”. Buku ini cukup ringan sebagai pengantar untuk memahami perjalanan Iran hinggi kini. Membaca Iran yang tersambung dengan peradaban Persia tentu tidak cukup dengan satu buku pengantar. Tetapi, bagian-bagian pokok bahasan perjalanan hingga terbentuknya Iran ada di buku ini. Penulis buku ini sejatinya mengkritik pemberitaan tentang Iran yang sering kali di sorot media Barat hanya dari satu sisi gelap, kolot, dan anti-modernitasnya saja.

Karena itu, menjadi masuk akal ketika informasi yang sampai pada kita adalah informasi yang telah diframming sedemikian rupa, sehingga narasi tentang Iran jauh dari kata utuh bahkan bias konfirmasi.

Hal ini tentu berakibat pada cara kita memahami Iran. Tetapi, faktor perang yang berlangsung sejak 28 Februari lalu, membuka tirai kegaiban tentang Iran. Fajar kebenaran menyingsing ke stasiun tv dan media sosial. Kesyahidan Ayatullah Ali Khamenei sejatinya buka duka, tetapi berkah bagi masyarakat dunia. Bahwa bias informasi Barat luluh lantak setelah informasi kebenaran Iran muncul lember per lembar, serta tembok arogansi AS telah hancur pelan-pelan. Keaslian Iran kini terkuak. Dunia ramai-ramai melihat Iran sebagai bangsa yang sangat modern secara intelektual dan teknologi.

Di bawah sanksi, mereka sesungguhnya telah terlatih menertawakan penderitaan melalui humor yang tajam, piawai menyembunyikan kritisisme di balik metafora puisi dan sinema indah, serta membangun jaringan solidaritas rakyat yang tak terlihat, tetapi kuat meski dikekang otoritarianisme.

Cyrus Agung dan Toleransi Keyakinan

Mentalitas tangguh dan kemandirian Iran tidak lahir dari ruang hampa. Ia berakar dari ribuan tahun silam. Di era kekaisaran Akhemenid, Cyrus Agung adalah raja yang meletakkan fondasi resiliences dan berdikari yang kokoh itu. Selain itu, wilayah tandus dan kering yang dikelilingi pegunungan yang sulit itu sesungguhnya adalah medan natural yang mengkader rakyat Iran. Semasa berkuasa, Koresh Agung (nama lain Cyrus Agung) adalah raja yang menguasai Babilonia tidak pure dengan penaklukkan, tetapi juga dengan penghormatan.

Koresh memahami bahwa kunci perekat seluruh elemen kekuasaan tidak harus berada di ujung pedang. Melainkan juga dengan merangkul lokalitas dan menghargai kepercayaan penguasa terdahulu. Hal ini terbukti ketika Koresh -yang meyakini Ahura Mazda (kebijaksanaan tertinggi) bagi penganut Zoroastrianisme- memberikan penghargaan tinggi pada Dewa Marduk: dewa tertinggi Babilonia, dengan berlutut di hadapan simbol keyakinan Babilonia itu.

Bagi The Great Cyrus, kekuasaan adalah pengakuan terhadap martabat kemanusiaan dengan memberi ruang seluas-luasnya pada penganut agama yang berbeda dari agama otoritas kekuasaan. Berbeda dengan raja-raja sebelum Koresh, penyeragaman keyakinan menjadi pemandangan lazim di kekaisaran. Ujung lidah penguasa berarti ketaatan absolut untuk segala urusan, termasuk urusan keyakinan (agama).

Toleransi ini diabadikan dalam artefak tanah liat yang berbentuk tong, yang tak sengaja ditemukan pada tahun 1879 di situs kuno Babilonia. Neil MacGroger, mantan Direktur British Museum, menyebut silinder ini sebagai dokumen pertama yang menjadi piagam hak asasi manusia pertama di dunia. Piagam ini bahkan mendahului Magna Carta di Inggris.

The Great Cyrus tidak berambisi mengubah dunia menjadi Persia. Ia ingin dunia yang penuh kedamaian terlepas dari apa kepentingan politik dan agamanya. Di saat peradaban lain berkutat pada hukum keras kerajaan, di tanah Persia, kekuasaan justru tidak hidup dalam ketertindasan dan teror, melainkan pengakuan akan keberagaman dan keadilan.

Mozaik-mozaik Pembentuk Wajah Iran

Iran tidak hanya Persia. Persia adalah hanya salah satu spektrum mozaik yang lebih luas. Iran adalah peradaban yang terdiri dari bangsa Persia sebagai bangsa mayoritas yang hidup berdampingan dengan bangsa lain, seperti bangsa Gilaki dan Mazandarani; orang-orang Kurdi; masyarakat Lur, masyarakat Azeri, suku Qashqai dan masyarakat Baloch. Jika dunia sering kali melihat Iran sebagai markas Syiah terbesar, itu tidak salah. Tetapi Iran tidak hanya tentang penduduk bermazhab Islam Syiah. Keberadaan komunitas iman di Iran telah lama hidup berakar di sana.

Di Isfahan, lonceng gereja Armenia masih berbunyi nyaring. Bangsa Armenia dan Asyur bukan tamu di Iran, tetapi penduduk yang tidak terpisahkan dari sejarah ekonomi, diplomasi, dan seni Iran sejak era Dinasti Safawi. Konstitusi resmi Iran mengakui Kristen, Yahudi, dan Zoroastrianisme sebagai agama minoritas yang dilindungi oleh pemerintah Iran.

Menariknya, setiap tahun, perayaan Nowruz dirayakan tidak hanya di kuil-kuil api di Yazd, tetapi di dalam setiap rumah-rumah umat muslim di Iran. Perayaan Nowruz adalah bukti bahwa perayaan identitas kebudayaan jauh lebih dalam dari identitas keagamaan itu sendiri.

Ini adalah mozaik Iran yang menjadi oase bagi bangsa yang kering penghargaan atas keberagaman. Iran terlihat tandus dan mungkin gersang dari kejauhan, tetapi di sela-sela bebatuan pegunungan, tumbuh bunga kebudayaan yang dirawat atas dasar kebanggaan atas peradaban.

Kesadaran akan kebudayaan ini menjadi kekuatan bagi Iran, bahwa kebesaran suatu bangsa tidak harus diukur dari jumlah amunisi senjata, deretan alutsista canggih dan mahal, melainkan seberapa dalam akar kebudayaan itu hidup dalam sanubari setiap masyarakat Iran.

Persia Menjadi Iran

Di abad ke-20, segalanya berubah sangat cepat. Identitas yang bertahan ribuan tahun dihapus dalam satu kebijakan sehari. Pada tahun 1935, Reza Shah Pahlavi menguasai Iran. Ia mengeluarkan perintah agar semua kedutaan besar asing mengubah nama Persia dengan Iran. Keputusan ini bukan hanya tentang urusan administratif, melainkan proyek branding politik yang penuh ambisi.

Bagi Reza Pahlavi, Persia adalah identitas yang menonjolkan identitas feminim yang penuh citra puitis. Reza mendambakan sebuah nama baru yang lebih maskulin, tangguh, yang bisa disejajarkan dengan kekuatan-kekuatan besar Eropa. Pilihan nama Iran memiliki akar epistemologisnya. Iran adalah kata yang bermuatan ideologis, yakni Tanah Bangsa Arya.

Reza ingin menegaskan jati diri mereka sebagai bangsa Arya yang terpisah dari pengaruh Islam. Nama “Iran” berarti upaya menarik garis lurus dari kejayaan imperium pra-Islam menuju modernitas masa kini. Penggunaan kata Persia selama ini bagi Reza Shah hanya akan mengkungkung peradaban ini dalam masa kegelapan.

Keputusan ini juga tidak bisa dilepaskan dalam konteks politik di masa itu, ketika Nazizme Jerman mengakuisi ras Arya sebagai identitas asli orang Jerman. Di masa itu, Pahlavi sedang membangun repositioning Iran di panggung politik dunia sebagai bangsa yang memiliki kedekatan dengan imperium Eropa.

Perubahan nama tidak sekedar kebijakan berani dan revolusioner, tetapi ia adalah ironi itu sendiri. Perubahan nama tidak otomatis berarti kemajuan. Saat modernisasi diupayakan, identitas lokal justru kehilangan rumah besarnya. Alih-alih membuat lompatan besar, penguasa justru melakukan langkah mundur. Identitas dan kebudayaan diganti dengan style dan nilai-nilai Barat. Pakaian-pakaian adat (hijab) diganti dengan busana Barat. Di ruang publik, percakapan tidak lagi menggunakan bahasa ibu.

Dinasti Qajar dan Gerakan Protes Tembakau

Di era Dinasti Qajar, Persia hidup di antara dua kekuatan besar. Rusia di utara dan Inggris di selatan. Bagi Rusia, menganeksasi wilayah utara Persia adalah jalan mengamankan jalur peralatan militer dan ekonomi. Sementara, Inggris berdalih, dengan menguasai selatan Persia, posisi India akan sulit dijangkau Rusia.

Ada dua peristiwa penting terjadi di Persia pada abad ke19. Pertama, gerakan Protes Tembakau ketika Nasir al-Din, penguasa waktu itu, memberikan monopoli tembakau kepada Inggris. Kedua, Konvensi Anglo-Rusia tahun 1907, yang membagi Persia ke dalam tiga teritori kekuasaan. Bagian utara milik Rusia, selatan milik Inggris, dan wilayah Persia yang netral. Akibatnya, Persia tidak lagi berdaulat sepenuhnya atas tanah dan wilayahnya sendiri.

Kedatangan bangsa luar ke tanah Persia tentu saja dalam rangka kolonialisme. Persia adalah wilayah kaya tembakau dan minyak bumi. Raja Dinasti Qajar saat itu gemar melakukan tur ke luar negeri dengan biaya fantastis. Tujuan tur ini dalam rangka memperkenalkan kerajaannya sebagai negara kaya dan sejahtera. Sebagai imbalan, Nasir diterima baik di kerajaan Inggris saat itu.

Tetapi, tamu kerajaan dalam konteks ini berarti negosiasi dan deal-deal bisnis. Nasir memanfaatkan kesempatan ini demi meneguhkan posisinya sebagai penguasa Persia. Di balik deal-deal, resiko setiap negosiasi bisnis antar negara kadang memerlukan biaya yang sangat mahal. Nasir al-Din akhirnya menyetujui proposal konsesi eksklusif yang diajukan Inggris.

Celakanya, Inggris mendapat hak istimewa memproduksi penjualan dan ekspor tembakau dari Persia selama 50 tahun. Selain itu, penemuan bor pompa minyak di Masjid Suleiman menjadi cetak biru bagi Inggris dalam pendirian APOC (Anglo Persian Oil Company).

Situasi ini gilirannya menjadi boomerang bagi kekuasaan Nasir al-Din. Kemarahan rakyat akhirnya meledak. Gerakan protes terjadi tanpa bisa cegat. Puncaknya ketika Mirza Hasan Sirazi mengeluarkan fatwa pelarangan penggunaan tembakau. Gerakan ini menjadi momentum runtuhnya Dinasti Qajar dan naiknya Reza Pahlavi ke tampuk kekuasaan Persia pada tahun 1925.

Tikaman Di Punggung Harapan

Pernah terjadi di sebuah masa sebelum Revolusi 1979, dimana Iran dipimpin oleh seorang nasionalis demokratis yang pro terhadap kepentingan rakyat Iran. Ia adalah Mohammad Mossadegh. Mossadegh adalah aristokrat terdidik yang bersekolah di Eropa. Pendidikan doktor hukumnya selesai di Swiss. Dalam sejarah Timur Tengah, pertama kali aset raksasa kolonial disita. Mossadegh melakukan itu dengan menyusun undang-undang nasionalisasi industri minyak.

Keberpihakan Mossadegh pada rakyat Iran juga ia tinjukkan pada sidang Mahkamah Internasional di Den Haag. Ia berpidato dengan sangat patriotik. Bahwa ia tidak hanya membela hak ekonomi Iran, tetapi menggugat hukum internasional yang kerap jadi pelindung bagi kepentingan negara kolonial. Tetapi, patriotisme seorang pemimpin negara bukan tanpa guncangan. Salah satunya adalah operasi penggulingan. Tak lama setelah kebijakan nasionalisasi minyak diberlakukan, Mossadegh harus menghadapi operasi gelap.

Intelijen Inggris menyusun Operasi Ajax. Berkat sokongan Eisenhower, CIA akhirnya terlibat. Pertama, operasi ini dilakukan dengan menyogok para jurnalis Iran untuk membuat berita-berita fitnah terhadap Mossadegh. Kedua, membayar bodyguard dan preman jalanan membuat kerusakan di pusat-pusat kota. Tujuannya adalah menciptakan anarki total.

Skema ini awalnya berhasil dipatahkan. Operasi lalu dilanjutkan dengan pengerahan militer. Agen-agen rahasia M16 dan CIA berhasil menyusup ke elit militer Iran. Mereka disuap untuk mengepung kediaman Mossadegh. Pada tanggal 19 Agustus 1953, Mossadegh akhirnya ditangkap.

Kekosongan kekuasaan di tubuh republik muda, dimanfaatkan oleh rezim Reza Shah. Melalui mekanisme demokratis, Reza Shah dan anaknya, Muhammad Reza Pahlavi menguasai Iran. Pada tahun 1970, Mohammad Reza Pahlavi memimpin dengan cara beringas. Ia memakai modernitas sebagai solusi dari kejumudan Iran. Bahwa hanya dengan menjadi Barat, Iran akan menjadi kekuatan besar dunia yang setara dengan negara-negara Eropa.

Benar saja, janji itu ia tunaikan. Mohammad Pahlavi membuatkan kebijakan perubahan Iran menjadi Paris. Ia ingin menjadikan Iran seperti Paris dalam semalam. Tidak butuh tahunan, ibu kota Iran bertransformasi menjadi Paris di Timur Tengah. Teheran gemerlap disorot lampu-lampu neon. Teheran dipenuhi dealer-dealer mobil sport Eropa. Gedung-gedung perkantoran modern berdiri megah.

Busana, budaya, hiburan, hingga infrastruktur diimpor. Kebijakan yang sangat terkenal adalah pelarangan hijab di ruang publik dan pewajiban bahasa Inggris di universtas dan sekolah. Selama puluhan tahun, Iran adalah pion Barat di Timur Tengah. Tak tanggung-tanggung, kebijakan nasionalisasi minyak di era Mossadegh dihentikan. Hubungan bilateral dengan Barat kembali dibuka.

Revolusi Di Ujung Tanduk

Demi menjaga mimpi Peradaban Besar-nya, Mohammad Pahlavi membentuk sebuah mesin sunyi yang bekerja tanpa hati untuk memastikan tidak satupun suara-suara kritis mengusik istana. Mesin itu bernama SAVAK (Sazeman-e Ettala’at va Amniyat-e Keshvar), sebuah organisasi intelijen yang dibantu secara teknis oleh CIA dan Mossad.

Bagi rakyat Iran, SAVAK bukan sekadar lembaga intelijen, melainkan bayang-bayang yang mengikuti setiap derap langkah kaki warga. Ia juga tidak ubahnya seperti telinga yang menempel di dinding-dinding rumah warga. Jaringan SAVAK merambah ke setiap sendi kehidupan. Jaringannya terkoneksi luas ke universitas, kantor pemerintah, organisasi serikat pekerja, hingga kedai-kedai teh. Bahkan, satu dari beberapa ratus warga Iran adalah informan SAVAK.

Kebebasan sebagai unsur modernitas yang pernah dijanjikan Mohammad Pahlavi menjadi pemandangan gersang. Kebebasan direnggut atas nama stabilitas. Suara-suara lain yang berbeda dari narasi penguasa direpresi. Puncaknya ketika Khosrow Golsorkhi dieksekusi pada tahun 1979.

Golsorkhi adalah penyair dan jurnalis yang sudah lama diincar oleh rezim Shah Pahlavi. Ketika hadir di persidangan, kasusnya disiarkan langsung oleh tv nasional. Keberanian dan idealisme kepengarangan Golsorkhi telah menancap tajam dalam sanubarinya, sehingga ketika menghadapi regu tembak, ia melantangkan suara terakhirnya. Ia dengan gagah berani melontarkan pembelaan terhadap hak-hak kaum tertindas. Ia menyandingkan perjuangannya dengan menukil keteladanan Imam Husain.

Keberaniannya dalam persidangan hingga dieksekusi menjadikannya martir legendaris bagi generasi muda. Selain Golshorki, nama Samad Behrangi masuk dalam daftar incaran penguasa. Samad Behrangi harus menghadapi kenyataan yang sama dengan Golshorki. Keduanya menjadi simbol perjuangan intelektual bangsa Iran. Begitulah revolusi, yang dalam sejarahnya kerap membutuhkan tetesan darah perjuangan.

Bagi seorang revolusioner, tidak ada tempat aman bagi perjuangan menegakkan kebenaran. Jeruji besi terus membayangi. Moncong senapan selalu membidik setiap saat. Denyut nadi kebenaran harus sejalan dengan naluri keberanian. Tanpa itu, cita-cita revolusi mungkin bisa menyala, tapi tidak mewariskan nyala api yang tak pernah padam.

Lahirnya Republik Islam Iran  

Tahun 1978, Tehran membara. Api revolusi itu menyala. Pekik perubahan bergemuruh di seantero Iran. Tiga elemen yang terbelah waktu itu: golongan aktivis kiri, kaum nasionalis liberal moderat, dan kelompok agamawan, bergabung menjadi satu gerakan aliansi yang hendak menghentak Dinasti Shah Pahlevi dalam satu kali tendangan.

Revolusi 1979 awalnya bukanlah revolusi satu warna. Tiga elemen tadi dipertemukan dalam satu ruang yakni, revolusi pembebasan dengan misi meruntuhkan rezim Shah Pahlavi. Kelompok kiri melihat Pahlavi dengan sangat tajam. Bahwa, rezimnya tidak ubahnya sebagai boneka imperialisme Barat. Mereka menginginkan meja kekuasaan Iran dibalik.

Sementara, kaum liberal moderat pewaris Mossadegh memiliki keresahan yang sedikit berbeda. Mereka merasa Shah telah mengingkari janji sejarah. Bahwa janji Revolusi Konstitusi yang pernah digaungkannya telah dikubur. Hanya saja, kelemahan blok sekuler hanya pandai berteori dan sulit menyentuh basis akar rumput.

Dalam konteks inilah, kelompok agamawan masuk. Ayatullah Khomeini tampil sebagai pemimpin kharismatik. Ia tidak bicara jargon sosiologis yang berat, tidak pula membicarakan hukum dengan istilah yang njlimet. Bagi Imam Khomeini, revolusi hanya bisa diwujudkan dengan bahasa pedagang dan petani, karena dengan begitu pesan revolusi cepat diserap oleh rakyat.

Sepanjang revolusi berlangsung, Khomeini adalah pemimpin garis depan revolusi. Perlawanan ini ia bingkai sebagai perang suci. Sehingga rakyat merasa sedang menjalankan tugas ilahi. Mereka meyakini bahwa perjuangan ini adalah tentang kesyahidan sebagaimana perjuangan Imam Husain di padang Karbala. Khomeini membuat massa tidak lagi getir pada kengerian senapan rezim Shah. Sebab, mati syahid jauh lebih mulia ketimbang hidup di bawah tirani kekuasaan.

Pada Desember 1979, Republik Islam Iran berdiri. Iran yang berdiri saat ini adalah konsep negara yang menganut paham teokrasi dengan mengadopsi konsep Velayatul e-Faqih atau Perwalian Ahli Fikih. Di Iran, kekuasaan tertinggi dipegang oleh para ahli hukum Islam. Posisi ini dijabat oleh Rahbar, seorang pemimpin tertinggi yang dipilih oleh 88 ulama senior yang tidak diragukan kapasitas intelektual dan kezuhudannya.

Sementara, anggota dewan dipilih oleh rakyat, tetapi penentuan dan penetapannya dilakukan oleh Dewan Garda, yang terdiri dari enam ahli hukum Islam dan enam ahli hukum sipil. Dewan Garda memiliki kewenangan mutlak untuk membatalkan penetapan seseorang sebagai anggota dewan jika terbukti tidak memiliki loyalitas yang kuat pada ideologi negara.

Sebagai republik belia, Republik Islam Iran melakukan dua amandemen konstitusi besar-besaran pada tahun 1989. Pertama, penghapusan jabatan Perdana Menteri dari struktur pemerintahan. Karena Iran sebelumnya memiliki dua sistem eksekutif ganda, yakni Perdana Menteri dan Presiden, yang pada praktiknya kerap terjadi gesekan kebijakan terutama terkait militer dan ekonomi. Dihapuskannya Perdana Menteri menjadikan garis koordinasi pemerintahan lebih terarah dan efektif. Presiden menjalankan fungsi teknis pemerintahan, tetapi tetap berada di bawah supervisi Rahbar.

Kedua, menghapus syarat bahwa kriteria pemimpin tertinggi harus Marja (otoritas keagamaan tertinggi yang mengikuti pengikut setia), kini diganti menjadi cukup ahli hukum Islam, mujtahid, dan memiliki kecerdasan politik manajerial. Seleksi pergantian pemimpin tertinggi sangat ketat di Iran, sebab fungsi pemimpin tertinggi tidak hanya menjalankan mandat langit, tetapi mandat dunia yang mengharuskan pemimpin tertinggi mengendalikan Bonyad (yayasan besar ekonomi yang menguasai industri, pasar, dan perusahaan-perusahaan) demi kemaslahatan umat.

Yayasan ini tidak bisa disentuh oleh pemerintahan sipil termasuk presiden itu sendiri. Yayasan cukup melaporkannya ke pemimpin tertinggi. Revolusi Iran tidak hanya mengubah sistem dan bentuk pemerintahan, tetapi juga mengembalikan perempuan ke harga diri dan martabatnya. Jika Shah Pahlavi melarang penggunaan hijab di ruang publik, maka konstitusi Iran yang baru mewajibkan penggunaan hijab di tempat umum.

Pemerintah merasa berhak mengatur pakaian perempuan Iran. Sebab, setiap detail penampilan perempuan Iran adalah indikator kesehatan moral bangsa dan berfungsi sebagai kekuatan perisai kebudayaan Iran. Aturan pakaian sesungguhnya bukan aturan administratif belaka, melainkan sebagai pernyataan kedaulatan ideologi.

Setelah menelusuri lorong-lorong sejarah Iran yang panjang: dari kekaisaran kuno hingga terbentuknya Iran menjadi sebuah republik yang bernafaskan Islam. Di sini, kita bisa memahami bahwa Iran bukan sekadar sebuah negara yang hari ini tengah terdampak imbas fragmentasi geopolitik global, tetapi sekaligus sebagai ide yang terus bergerak menyampaikan pesan perdamaian seperti yang kita simak dalam perangnya melawan arogansi Amerika dan kebiadaban Israel hari ini.

Muhammad Suryadi R 5 Juli 2026
Share post ini
Arsip