︁︅︂︅︂︄︄︄︄︂︃︂︃︄︂︄︄︄︄︃Michael Wicaksono menulis buku yang sangat penting. Buku itu adalah “Memahami China”. Wicaksono memulai bukunya dengan sebuah dongeng. Selama berapa abad, dongeng ini pernah menjadi sejarah resmi China. Dongeng itu menceritakan, konon alam semesta bermula dari sebuah telur, yang di dalamnya hidup seorang raksasa yang bernama Pangu. Pangu yang keluar dari telur itu harus menopang pecahan telur tersebut agar bisa bertahan. Pecahan telur atas kelak akan menjadi langit dan pecahan telur bawah akan menjadi bumi. Dua pecahan yang dijaga Pangu itulah yang menjadi bibit keteraturan. Pangu lalu wafat dengan meninggalkan warisan, yakni dunia yang damai.
Selang ratusan abad berikutnya, agama dan ilmu pengetahuan bergerak menyisir China. Kebenaran sejarah terkuak lembaran demi lembaran, hingga kesepakatan tentang sejarah China diakui secara luas. Tetapi, bagaimana China yang sesungguhnya? Siapakah orang China yang asli? Bagaimana peradaban mereka terbentuk? Untuk menjawabnya, kita penting memulainya dari sudut pandang etnisitas. Berdasarkan Sensus Nasional China tahun 2010, mereka yang menyebut diri sebagai orang China adalah mereka yang berasal dari suku Han. Sebanyak 90 persen atau lebih dari 1,2 miliar jiwa. Selebihnya adalah suku-suku minoritas.
Suku Han sendiri berasal dari Dinasti Han yang baru muncul di abad ke-3 SM. Berarti sebelum suku Han, terdapat orang China awal. Konsep baku tentang siapa orang China sesungguhnya terus mengalami perdebatan. Tidak sedikit sejarawan menyebut bahwa nenek moyang orang China hidup di sekitar Sungai Kuning lalu beranak pinak sampai ke Sungai Yang-tze. Dalam buku ini, Wicaksono menukil penelitian Wu Xinzhi, Profesor dari Akademi Ilmu Pengetahuan China. Wu menjelaskan bahwa spesies Homo Erectus yang menyebar ke dataran Afrika tidak punah, tetapi berevolusi lalu menetap di China.
Ketika sampai ke lembah kuning, mereka menemukan Sungai Kuning. Sungai ini ekstrim, arus jeramnya lebat bergerak hebat. Sehingga mustahil diarumi. Tetapi, sungai ini membawa kesuburan. Mereka yang menetap di pinggiran sungai kuning -yang kemudian disebut pemukim- membangun tempat tinggal di sepanjang aliran sungai. Faktor kesuburan endapan tanah sungai membuat populasi bertambah dan menyebar. Para sejarawan China menyebut Sungai Kuning sebagai “Ibu kebudayaan China”. Hanya saja sang ibu ini bukanlah ibu yang penyayang dan lembut. Ibu ini seringkali meluapkan kemarahan berupa banjir bandang yang dahsyat. Akibatnya, banyak pemukim menjadi korban.
Dinasti Zhou Pemulai Peradaban
Berdasarkan catatan sejarah dalam Gulungan Bambu maupun Kitab Sejarah, periode kenegaraan dimulai di masa Dinasti Xia. Wicaksono mengambil pendapat Jared Diamond dalam bukunya Guns, Germs, and Steel, menjelaskan bahwa sistem politik China mengikuti tahapan perkembangan sosial-politik sebagaimana yang terjadi di tempat-tempat lain. Dinasti Xia didirikan oleh seorang tokoh legendaris bernama Yu yang Agung. Meski begitu, keberadaannya masih sulit dibuktikan. Cerita tentang Dinasti Xia ditemukan dalam catatan sejarah dari zaman Zhou dan Han. Untuk menyelidiki asal usul tersebut, pemerintah RRC mensponsori pembentukan tim penelitian sejarah yang bertajuk “Proyek Kronologi Xia-Shang-Zhou” untuk menemukan secara akurat kronologi keberadaan masa pra-sejarah China.
Setelah Xia, muncul Shang lalu Zhou. Era Zhou meninggalkan banyak jejak sejarah. Salah seorang arkeolog menemukan sebuah lubang berisi tidak kurang dari 17 artefak, yang sebagian besar adalah cangkang kerang dan tulang belikat sapi yang dihiasi guratan Jiaguwen (aksara yang berisi ramalan-ramalan). Para sejarawan menerjemahkan isinya dengan cukup akurat. Catatan ini berisi temuan-temuan sejarah. Jiaguwen berisi huruf Jinwen, dan memberikan para sejarawan sebuah catatan penting. Para sejarawan meyakini Dinasti Shang merupakan awal mula sistem sosial yang lebih kompleks di China dan sistem pemerintahan terstruktur dan sistematis dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Pada masa Dinasti Shang, praktek peramalan merupakan kegiatan umum. Tulang belikat sapi atau cangkang penyu yang dipanaskan menghasilkan retakan yang diterjemahkan sebagai huruf dan di sinilah huruf-huruf awal China bermula. Dalam kitab Zuozhuan dan Shanhaijing yang ditulis di sektar abad ke-5 hingga ke-3 SM, disebutkan terdapat “Empat Hewan Mulia” atau “Empat Simbol” yang menggambarkan empat arah mata angin: Naga di Timur, Harimau di Barat, Kura-Kura di Utara, dan Burung Phoenix di Selatan. Kemudian, wilayah China sesuai kosmologi Chinanya dikelilingi empat suku: Di di Utara, Yi di Timur, Man di Selatan, dan Rong di Barat.
Sulit membayangkan China tidak sebagai sebuah negara wilayahnya yang sangat luas, tetapi diperintah oleh satu entitas terpusat. Sebagai pedoman, negeri Zhou memiliki sekumpulan aturan yang disebut Zhouli atau “Ritus Negeri Zhou”, yakni salah satu teks ritual kuno dalam Konfusianisme. Kitab ini mengatur hampir semua aspek kehidupan. Yang menarik dari kitab ini adalah “Tiga Kepatuhan” dan “Empat Kebijaksanaan”, yang mengatur tentang tiga kepatuhan wanita dan empat prinsip moral dan kewajiban tak tertulis yang harus dipatuhi wanita. Kitab Zhouli ini ditulis di masa Konfusianisme. Konfusianisme adalah ajaran yang dicetuskan oleh Kong Zhongni atau Guru Kong yang juga dikenal sebagai Kongzi. Nama Kongzi dilatinkan oleh Matteo Ricci, seorang misionaris Yesuit berkebangsaan Italia.
Konghucu hidup di masa Dinasti Zhou Timur. Ajaran ini hidup dalam struktur masyarakat Konghucu. Di dalamnya cendekiawan dan kaum terpelajar menempati urutan teratas. Sebab itu, mereka mengabdikan diri untuk kepentingan orang banyak karena dianggap sebagai teladan dan menjadi penasehat yang bijaksana kerajaan. Sehingga, untuk mendirikan pemerintahan yang ideal, pengikut ajaran Konghucu menempati posisi penting dalam pemerintahan. Di periode ini juga, berkembang ajaran Taoisme. Ajaran ini didirikan oleh Lao Tzu yang hidup sezaman dengan Guru Kong atau Konghucu. Ajaran ini adalah aliran kepercayaan China Kuno terhadap dualisme Yin dan Yang. Perpaduan keduanya dipercaya dapat menciptakan harmoni. Simbol Taoisme adalah perlambangan kehidupan yang mengalir.
Periode Dinasti Zhou Timur adalah masa-masa penuh gejolak. Negara-negara bagian saling bergumul untuk mengungguli satu sama lain. Di tengahnya ada bangsa Jin, yang wilayahnya meliputi seluruh wilayah inti peradaban China Kuno (Sungai Kuning). Para bangsawan negeri Jin memperkuat diri mereka sendiri dan saling bersaing satu sama lain. Hingga akhirnya tersisa empat bangsawan terkuat, yaitu klan Zhi, Zhao, Wei, dan Han. Dari keempatnya, klan Zhi paling dominan dan memiliki ambisi berkuasa. Ketiga klan lainnya membereskan klan Zhi lalu bersatu untuk menjadi negara bagian yang independen. Pembagian negara bagian yang disetujui ini menandai berakhirnya periode Musim Semi dan Musim Gugur, dan pada gilirannya membawa China dalam periode “Negara Berkembang.”
Di utara, ada negara Qin. Qin menaklukkan negara-negara di bagian utara. Qin lalu mendirikan dinasti-dinasti baru yang menggantikan Dinasti Zhou pada tahun 221 SM. Ying Sheng diangkat menjadi penguasa tertinggi. Di masa inilah gelar raja tidak lagi digunakan. Era kekaisaran bermula. Huandi menjadi kaisar pertama, yang lebih terkenal dengan nama Qinshihuang. Dalam upayanya mempersatukan China yang terbelah, Qinshihuang telah membunuh ratusan ribu orang -persis apa yang pernah dilakukan para pendahulunya. Meski begitu, Qinshihuang sebenarnya adalah orang yang takut mati. Karena itu, ia merekrut berbagai orang yang dapat memberinya cara untuk mencapai keabadian.
Ada yang menyarankan agar Qinshihuang mencari obat keabadian di negeri para dewa yang terdapat di seberang lautan. Maka Xu Fu menjaminkan keabadian tersebut dengan syarat tumbal sejumlah tiga ribu pasang muda-mudi terbaik yang dijadikan persembahan bagi dewa. Qin menyanggupinya, Xu Fu pun berlayar ke negeri seberang tanpa pernah kembali. Tiga ribu pasang muda mudi tadi konon dipercaya sebagai nenek moyang orang Jepang modern. Cara terakhir adalah memanggil para ahli Nujum yang menganjurkan agar Qinshihuang menelan Pil Merkuri yang terbuat dari air raksa. Sejak dulu, orang China percaya bahwa bila seseorang menelan unsur ini, organ tubuhnya akan berubah menjadi logam dan tidak akan pernah rusak dan pada gilirannya orang tersebut akan memiliki tubuh kuat dan memiliki umur panjang.
Tetapi, Qinshihuang bernasib naas. Keabadian yang diimpikannya tidak kunjung tiba. Keracunan dalam waktu lama merusak saraf-saraf Qin hingga merenggut nyawanya. Saat wafat, ia dimakamkan bersama ribuan prajurit tembikar (Terakota).
Kebesaran Dinasti Han dan Keemasan Dinasti Tang
Sebagai peradaban besar, China sejak lama mengembangkan budaya tulis menulis sejak dua ribu tahun sebelum masehi. Penelusuran sejarah tertulis China membawa kesimpulan sejarah bahwa awal mula sejarah China terdapat di atas tulang dan cangkang. Dokumen sejarah ini disebut dengan “Dokumen Agung”. Sayangnya pembakaran massif karya-karya kuno terjadi di era Qinshihuang. Di periode Dinasti Han, upaya menyusun kembali sejarah dilakukan oleh Kaisar Wu. Adalah Sima Qian yang dipercayakan menyusun kembali sejarah China. Dalam upaya menyusun kitab sejarah China, ia tersandung masalah dengan sang kaisar. Ia harus dikebiri akibat sanggahannya yang dianggap oleh sang kaisar sebagai penghinaan. Di masa itu, seseorang yang menghina kaisar adalah pelanggaran berat, sehingga ganjarannya adalah hukuman mati. Seseorang bisa saja lolos dari jerat hukuman mati, jika seseorang itu punya cukup uang untuk menebus dirinya sendiri.
Saat itu, satu-satunya pilihan yang tersedia adalah menerima kebiri. Hukuman itu tidak membuatnya menyerah atas tanggungjawab berat itu. Sima tetap melanjutkan petualangannya berkunjung ke tempat-tempat bersejarah dan mengumpulkan catatan-catatan, baik dari penuturan lisan maupun saksi sejarah yang masih hidup. Dari petualangannya, lahirlah mahakarya Shijji, sebuah kitab sejarah. Menariknya, kitab sejarah ini berbentuk novel yang menyajikan dialog-dialog dan cerita-cerita kehidupan manusia. Awalnya, kitab ini tidak terpublikasikan. Baru setelah Sima Qian wafat, keturunan Kaisar Wu menyebarkannya. Sebagai sebuah mahakarya, kitab sejarah ini menjadi referensi utama para sejarawan di masa-masa berikutnya.
Selain kitab sejarah, Dinasti Han adalah periode gemilang. Salah satunya adalah Sutera. Pada masa Dinasti Han, sutera menjadi komoditi paling dicari oleh pedagang-pedagang. Pada masa itu pulalah, nama Jalur Sutera mengemuka. Jalur ini nantinya menjadi pusat ekonomi baru bagi kekaisaran. Sayangnya, pergolakan di akhir masa Han Timur, wilayah ini lepas dari kekuasaan China lalu kembali ke pangkuan China di era Dinasti Tang dan menjadi permanen pada masa Dinasti Qing. Setelah Jalur Sutera, kertas menjadi penemuan penting di China. Jauh sebelum Eropa mengenal kertas, China telah menjadikan kertas sebagai alat surat menyurat istana. Kertas ditemukan oleh Cai Lun, seorang kasim di masa Kaisar Ming. Selain itu semua, setidaknya terdapat penemuan besar China yang diakui dunia, yakni kompas, bubuk mesiu, dan percetakan.
Pasca Dinasti Han, penguasa berikutnya adalah Tang. Jalan unifikasi China kembali dirintis oleh Li Shimin setelah memenangkan pertarungan dengan dua rivalnya di Hebei dan Henan. Li Shimin diangkat sebagai kaisar baru oleh ayahnya. Ia lalu dikenal dengan Kaisar Taizong dari Tang. Masa kepemimpinannya dikatakan sebagai era keemasan. China di masanya dipimpin oleh seorang penguasa yang tidak hanya bijak dan cakap, tetapi juga pandai memanfaatkan bakat seseorang dalam pemerintahan. Kaisar Taizong tidak kekurangan orang berbakat dari penjuru negeri yang siap mengabdi untuk pemerintahan. Karena itu, sang kaisar menghidupkan sistem “Ujian Kekaisaran”. Tidak berhenti sampai di situ, Dinasti Tang berfokus pada wilayah perbatasan-perbatasan di barat yang selama ini lepas dari kendali kekuasaannya.
Wilayah China di masa Tang membentang sampai ke perbatasan Pakistan-India modern dan juga ke wilayah Kazakhstan sekarang. Di masa Tang pula, Jalur Sutera tidak menjadi jalur ekonomi biasa, tetapi berhasil menjadi alat politik yang digunakan untuk menghubungkan China dengan Khalifahan Abbasiyah di Baghdad dan sekaligus menjadikan Islam sebagai sekutu utama Dinasti Tang. Persentuhannya dengan pedagang-pedagang Arab nantinya membawa pengaruh agama lain terutama Islam di sistem kekaisaran. Bahkan, di masa ini sepupu jauh Nabi Muhammad Saw.: Sa’ad Abi Waqqas, mengunjungi China lewat laut dan diterima baik oleh kaisar dan memerintahkan dibangun masjid pertama China di kota Guangzhou.
Dalam banyak hal, Dinasti Tang adalah pengulangan Dinasti Han. Salah satunya adalah peran perempuan di balik kekuasaan. Jika Dinasti Han punya Lu sebagai permaisuri, maka Dinasti Han memiliki Wu Zetian, yang merupakan kaisar pertama perempuan dalam kekaisaran China. Naiknya Wu Zetian ke tampuk kekuasaan adalah tonggak sejarah China. Sebab, sebagaimana peraturan dinasti-dinasti sebelum-sebelumnya, kaum perempuan hanya ditempatkan di ranah domestik: di dalam rumah, mengurusi suami, dan membesarkan anak. Wu Zetian mendobrak sistem tersebut. Ia bertahta atas nama kaumnya dan memegang kekuasaan langsung dalam genggamannya tanpa dikendalikan oleh orang lain di balik kelambu tirai tahta. Sejak kecil, tanda-tanda kepemimpinan sudah terlihat. Ketika Wu lahir, ayahnya mengenakan pakaian laki-laki padanya.
Seorang peramal yang diundang oleh kaisar menyempatkan diri menyambangi kediaman keluarga Wu. Ayah Wu pun meminta sang peramal meramal anak-anaknya. Sang peramal menyebutkan bahwa suatu saat dua orang anaknya akan menjadi pejabat tinggi. Ketika melihat Wu yang masih bayi, sang peramal tertegun cukup lama dan mengamati bayi itu. Bayi ini memiliki mata naga dan dahi phoenix. Sang peramal mengatakan, bayi ini memiliki ciri-ciri kaisar. Jika bayi ini perempuan, kelak ia akan menjadi seorang kaisar. Ramalan itu pun terbukti. Wu Zetian naik ke tampuk kekaisaran.
Sebagai seorang wanita, Wu Zetian menyadari bahwa posisi kaumnya tidak otomatis beranjak meskipun ia telah menjadi kaisar. Para pejabatnya bahkan mencibirnya diam-diam dengan sebutan “ayam betina yang berkokok”. Tetapi Wu Zetian berhasil membuktikan semuanya. Selama masa kepemimpinannya, China relatif stabil, aman dan makmur.
Wu juga mereformasi istana. Ia memerintahkan semua dayang istana belajar membaca dan mempelajari literatur-literatur klasik. Selain itu, ia mengizinkan kaum wanita bangsawan untuk ikut hadir dalam acara ritual kekaisaran yang dulu hanya menjadi hak khusus bagi para pejabat dan bangsawan pria saja. Tidak hanya di dalam istana, Wu aktif mengkampanyekan emansipasti perempuan di tengah masyarakat China yang sangat patriarki. Sebagai contoh, Wu mempromosikan kitab Daodejing sebagai bahan pelajaran wajib bagi para kandidat yang akan mengikuti ujian kekaisaran, karena ia merasa kitab inilah yang paling representatif berbicara keluhuran perempuan.
Di masa pemerintahan Kaisar Xuanzong, Dinasti Tang dianggap sebagai puncak kebudayaan klasik China. Sang kaisar sendiri adalah seorang sastrawan dengan kompetensi yang cukup brilian. Kaisar bahkan memiliki kemampuan menulis puisi dan kaligrafi yang tidak kalah mengesankan dibanding para pujangga yang sezaman dengannya. Dinasti Tang juga menjadi masa dimana seni lukis mendapatkan bentuknya yang definitif. Dua pelukis terkenal yang hidup di masa ini: Han Gan dan Dai Song, menciptakan masing-masing lukisan dengan ciri khasnya masing-masing. Lukisan Han misalnya tentang seekor kuda milik Kaisar Xuanzong bahkan sampai disebut sebagai lukisan kuda terbaik sepanjang sejarah China. Lukisan milik Han Gan ini bisa dijumpai di Museum Seni Metropolitan di New York, Amerika Serikat.
Begitu juga dengan lukisan Dai Song. Ia menggambar sapi. Salah satu lukisannya yang terkenal adalah “Lukisan Pertarungan Sapi”. Lukisan ini menggambarkan dua ekor sapi jantan yang tengah bertarung dalam gerak yang hidup, dimana seekor sapi tengah menanduk sapi lainnya yang ada di depannya. Lukisan Dai Song ini dibawa lari ke Taiwan pasca Chiang Kai-sek mengalami kekalahan di perangnya melawan Mao Zedong dan saat ini disimpan oleh Museum Istana Kekaisaran di Taipei. Setelah seni lukis, era Tang juga masyhur dengan cerita perjalanan Biksu Tom Sam-cong ke barat mencari kitab suci yang dikawal Sun Go-Kong, sang raja kera sakti, bersama Ti Pat-kay: siluman babi sakti, dan Sah Ceng: siluman air yang bertobat. Kendati banyak yang menganggapnya cerita fiktif, tetapi kisah itu benar-benar terjadi. Bahwa seorang biksu bernama Xuanzang melakukan perjalanan jauh ke India demi mencari kitab suci agama Buddha.
Renaisans China, Kekuasaan Mongol, hingga Deng Xiaoping
Ketika China mencapai era keemasan di periode Dinasti Tang, maka puncak renaisans China dimulai di era Dinasti Song. Hal ini dipengaruhi oleh pendahulunya. Sehingga, era Dinasti Song sebetulnya lebih kepada memetik kegemilangan era sebelumnya. Salah satunya adalah munculnya uang kertas. Saat itu, pemerintahan menemukan cara efektif untuk melakukan transaksi dalam jumlah besar. Cara itu adalah uang kertas. Orang China menyebutnya Jiaozi, bahkan dianggap sebagai uang kertas pertama di dunia. Uang kertas ini dikenalkan ke Eropa oleh Marco Polo ketika ia mengunjungi China dan membawa pulang konsep dan pengetahuan moneter tersebut ke Eropa. Setelah konsep percetakan ditemukan, para cendekiawan menemukan mesin cetak portable, sehingga mereka menuangkan ide-ide tentang apapun ke dalam buku. Misalnya, ide tentang pertanian ke dalam banyak buku. Ide tentang birokrasi ke dalam kitab, serta kurikulum ala Konghucu ditulis ke dalam kurikulum pendidikan.
Di masa Dinasti Song, era lain muncul, yang bisa dikatakan sebagai era yang berbeda dari era sebelumnya, yang menguasai China cukup lama. Era itu adalah Kebangkitan Mongol. Bangsa Mongol nantinya akan menjadi penguasa China dan mendirikan Dinasti Yuan. Bangsa Mongol adalah suku nomaden yang hidup di luar teritori China. Mereka ini menempati padang rumput yang luas di tepi Sungai Onon, yang merupakan sungai yang terbentang dari Rusia menuju Republik Mongolia saat ini. Di tepi sungai inilah, lahir Borjigin Temujin atau yang akrab kita sebut Genghis Khan. Genghis hidup dari pertarungan ke pertarungan. Sejak masih kecil pun, ia sudah harus menanggung kerasnya kehidupan akibat peperangan. Hingga ia dewasa, Genghis telah terlibat dalam peperangan. Saat menjabat kaisar, ia memiliki empat orang anak laki-laki, yakni Jochi, Chagatai, Ogodei, dan Tolui. Saat Genghis wafat, konflik membesar di internal keluarganya, terutama terkait perebutan tahta.
Ogedoei wafat setelah memerintah selama 12 tahun. Sebelum mangkat, ia memberikan tahtanya pada Guyuk, putranya sendiri. Tetapi karena Jochi sedari awal tidak menyetujui pengangkatan Ogodei sebagai penerus Genghis, maka ia mengobarkan perlawanan kepada Guyuk. Namun, Kurultai (dewan penasehat kaisar) sepakat mengangkat Mongke sebagai Khan yang baru. Mongke bersama adiknya Kublai, memimpin perang dalam penaklukan China. Hanya saja, dalam operasi merebut China, sang kakak meninggal dalam pertempuran. Praktis, pasukan perang dipimpin oleh Kublai. Setelah menumpas perlawanan penguasa Song, Kublai naik sebagai kaisar baru dari keturunan Khan. Bangsa Mongol yang menduduki China kemudian mengadopsi sistem pemerintahan China, termasuk gelar kaisar. Sehingga, pemerintahan Mongol menjadi kekaisaran dan Kublai mendirikan Dinasti Yuan sekaligus menjadi kaisar pertama.
Di masa kepemimpinannya, Kublai memindahkan ibukota China ke Beijing. Ia memberikan gelar anumerta kepada Genghis Khan dengan nama Kaisar Taizu (pendiri Dinasti Song), dan ia sendiri sebagai Kaisar Shizu (pendiri Dinasti Yuan). Menariknya, Kublai akomodatif dalam pemerintahannya. Terbukti saat ia mengangkat seorang muslim sebagai gubernur pertama provinsi Yunnan. Ia adalah Syamsuddin Omar Al-Bukhari, yang merupakan keturunan langsung dari Nabi Muhammad Saw. atau leluhur dari Syekh Jumadil Qubro. Selain itu, keluarga Syamsuddin berturut-turut menjadi gubernur Yunnan. Salah satu keturunannya nantinya akan menjadi kasim istana yang dikenal dengan Ma He atau Zeng He atau yang lebih dikenal dengan sebutan Laksamana Cheng Ho yang hidup di masa Dinasti Ming.
Dari periode Ming ke periode Qing, China telah mengalami begitu banyak peperangan dan penaklukan. Bibit akhir era kekaisaran muncul ketika Qianlong, kaisar terkenal dari Dinasti Qing wafat. Akibatnya, era kekaisaran melemah, terlebih ketika masuknya bangsa Eropa ke daratan China. Hingga di penghujung abad ke-19, China benar-benar dianggap sebelah mata oleh bangsa asing. Rakyat hidup ditindas oleh pemerintahannya sendiri, sementara pemerintahan Qing semakin lemah tak berdaya menghadapi tekanan eksternal dari berbagai sudut. Di masa itu, negara asing yang ingin menguasai China tak hanya Eropa, tapi Jepang. Kendati mereka sebenarnya adalah bangsa serumpun, tetapi dipisahkan oleh jurang politik yang sangat lebar.
Akibat ketidakpuasan rakyat, pemberontakan merajalela di hampir semua wilayah kekuasaan Dinasti Qing. Seperti di era-era sebelumnya, Dinasti Qing mengulang kehancuran para pendahulunya. Tetapi, sebagaimana dikatakan Luo Guazhong, sastrawan terkemuka China di era Dinasti Ming, mengatakan “Apa yang lama terpecah akan bersatu. Apa yang lama bersatu akan terpecah juga”. Seperti gayung bersambut, perpecahan China menemukan kembali perekatnya setelah Sun Yat-sen muncul. Sun Yat-sen hadir mempersatukan China menjadi negara nasionalis. Ia dikenal sebagai Bapak Pendiri Republik China. “Tiga Prinsip Kerakyatan” ajarannya, yakni nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme, menjadi filosofi penyatuan China. Sun mendirikan partai nasionalis China yang kemudian dikenal dengan nama Guomindang atau Kuomintang.
Seperti takdir, persatuan China bertahan sebentar, terlebih setelah Chiang Kai-sek mengambil alih kepemimpinan KMT setelah Sun Yat-sen meninggal. Mulanya, partai KMT solid sampai ke bawah kendati infiltrasi ideologi komunisme merangsek ke elit tokoh China. Hanya saja, perbedaan cara pandang membangun konsep negara China mengakibatkan polarisasi yang kuat. Pun konteks Perang Dingin menjadi faktor penting polarisasi tersebut. Perseteruan yang semakin menguat mengakibatkan perpecahan tak terelakkan. Maka, Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang disponsori Uni Soviet mengobarkan pemberontakan. Mao Zedong bersama Tentara Merah menduduki Beijing dan mengalahkan Partai KMT di berbagai tempat hingga akhirnya Mao memproklamirkan berdirinya Republik Rakyat China pada tanggal 1 Oktober 1949. Peristiwa ini mengakibatkan Chiang Kai-sek kabur ke Taiwan.
Di dalam lingkaran kekuasaan Mao, terdapat sosok yang nantinya membawa China bertransformasi menjadi negara dengan konsep “One State, Two System”. Ia adalah Deng Xiaoping. Pada dasarnya, Deng Xiaoping adalah seorang pragmatis. Ucapannya yang terkenal sebelum Revolusi Kebudayaan, “Tidak Peduli Kucing itu Hitam atau Putih, yang Penting Bisa Menangkap Tikus”. Setelah menjabat pemimpin militer tertinggi China, Deng pun mengumumkan kebijakan politiknya, yakni “Mencari Kebenaran dari Kenyataan”. Ia menjelaskan bahwa partai dan pemerintah harus mengedepankan metode ilmiah yang terukur dalam menentukan arah kebijakan pemerintahan. Kebijakan yang dicetuskannya juga sebenarnya meneruskan kebijakan mendiang Zhou Enlai yang secara bertahap menerapkan “Empat Modernisasi”, yakni modernisasi di bidang pertanian, industri, ilmu pengetahuan, dan pertahanan nasional.
Di tangan Deng, China menjadi negara terbuka. Hal itu ia buktikan dengan membangun hubungan diplomatik dengan negara maju pemilik modal. Selain itu, Sang Kamerad mengunjungi Jepang yang sebelumnya renggang di masa transisi. Secara perlahan, Deng mendapatkan investasi asing dari negara yang pada awalnya menjadi musuh, yakni Amerika Serikat. Keterbukaan China di era Deng berbeda dengan Perestroika yang digagas Mikhail Gorbachev pada tahun 80-an, yang membuka kebebasan sebebas-bebasnya tanpa mempertimbangkan haluan ideologi negara, yang pada gilirannya mengakibatkan kolapsnya Uni Soveit. Dalam konteks ini, di sinilah letak kecerdasan Deng Xiaoping. Ia mengadopsi pasar dan keterbukaan ekonomi, tetapi tetap memegang teguh nilai dan prinsip sosialisme. Sederhananya, Deng menerapkan kebijakan terbuka keluar, tapi tertutup ke dalam sebagaimana analogi kucing hitam dan putih yang menjadi slogannya.
“Tidak Peduli Kucing itu Hitam atau Putih, yang Penting Bisa Menangkap Tikus”. Bahwa untuk maju, China tidak penting memakai kapitalisme atau sosialisme, yang penting tujuannya bisa membawa China menuju kemakmuran dan kesejahteraan. Belakangan, prinsip ini dikatakan oleh Deng sebagai “Sosialisme China”. Demikianlah.